Monday, 25 April 2011

Kapitalisme "The Satanic Ideology"


ReviewReviewReviewReviewReviewKapitalisme "The Satanic Ideology"Sep 4, '07 11:21 PM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:Umar Abdullah
Kapitalisme Cacat Sejak Lahir

Judul Buku : Kapitalisme, “The Satanic Ideology”
Penulis : Umar Abdullah
Editor : Lathifah Musa
Penerbit : el-Moesa Press, 2007
Tebal : 79 halaman
Pemesanan : e-Moesa Press, Komplek Laladon Permai H-5 Bogor. Telp: 0856-287-5954. e-mail: el_moesa@yahoo.com


Kapitalisme yang saat ini menjadi sistem kehidupan yang diterapkan di banyak negara di dunia ini, sejatinya memiliki sejarah panjang nan gelap. Sistem kehidupan yang berakidah sekularisme ini telah menorehkan catatan berdarah dalam upaya penerapannya di banyak negara. Seperti disampaikan penulisnya pada bagian buku ini dengan mengungkapkan proses berdirinya negara Amerika dan Perancis. Di kedua negara tersebut, terjadi revolusi berdarah untuk mewujudkan sekularisme-liberalisme yang merupakan akidah dari Kapitalisme.

Di Amerika pada tahun 1775 meletuslah Perang Revolusi. Perang Revolusi ini berawal dari pertempuran Lexington dan Concord. Dan setahun kemudian (1776) Amerika mendeklarasikan kemerdekaannya dari Inggris. Slogan-slogan Hak –hak Asasi Manusia diangkat dalam Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan) Amerika yang ditulis oleh Thomas Jefferson. Thomas Jefferson dianggap juru bicara kebebasan manusia. (hlm., 45)

Di Perancis, pada tahun 1789 pecah Revolusi Perancis yang mengusung jargon ”Liberty, Egality, Fraternity”. Sistem Feodal dihapus dan diproklamasikan Hak-hak Asasi Manusia. Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette dieksekusi bersama ribuan penduduk Perancis lainnya. Sebuah revolusi ideologis yang sangat berdarah. (hlm., 46)

Berbeda dengan Islam, Revolusi Islam tanpa kekerasan dan darah. Rasulullah saw. ketika hendak menyampaikan Islam dan ingin menjadikan Islam sebagai ideologi negara, menjadikan jalan merangkul ahlul quwwah (pemilik kekuasaan) dari kabilah-kabilah dari Madinah yang melakukan haji ke Mekkah. Mereka diberikan pemahaman tentang ajaran Islam dengan cara yang sangat baik. Setelah Baiat Aqabah pertama (12 orang penduduk Madinah yang memeluk Islam berjanji dengan Muhammad saw. untuk tidak menyekutukan Allah Swt., tidak berzina, dan bentuk maksiat lainnya), Rasulullah saw. kemudian mengutus Mush’ab bin Umair untuk menyampaikan Islam ke penduduk Yastrib (Madinah).

Alhamdulillah, dakwah Mush’ab mendapat sambutan dari banyak penduduk Madinah (terutama kalangan tokohnya) hingga kemudian pada musim haji tahun berikutnya 75 rombongan dari Madinah (73 laki-laki dan 2 orang wanita), melakukan Baiat Aqabah II dengan Nabi Muhammad saw. Pada Baiat Aqabah kedua ini, Rasulullah saw. Bukan hanya membicarakan dakwah, tapi sekaligus menyusun strategi agar Islam bisa diterapkan sebagai pondasi sebuah negara. Atas pertolongan Allah, seluruh pemuka masyarakat dari Madinah ini menyetujui. Singkat kata, negara Islam berdiri di Madinah tak lama setelah Rasulullah saw. berhijrah ke sana. Subhanallah, inilah revolusi Islam yang tak perlu mengucurkan darah. Bahkan ketika futuh (penaklukan) Mekah pun, sama sekali tak ada darah yang menetes. Islam datang dengan damai. Jika pun terjadi pertempuran, itu lebih karena pihak musuh terlebih dahulu menantang Islam ketika Islam sudah menjadi dasar negara di Madinah. Tentu saja tantangan perang dari musuh-musuh Islam itu harus dilayani dengan mengangkat senjata pula sebagai pilihan logis supaya kedaulatan Islam tetap berdiri tegak.

Buku ini cukup bagus mengupas fakta dengan lengkap dan detil. Hanya saja, dari sisi bahasa, buku ini terasa ”lurus” karena didominasi data-data yang sepertinya begitu saja dicantumkan tanpa dikemas ulang dengan gaya bahasa penulisnya. Sehingga membaca buku ini seperti sedang membaca kumpulan fakta yang disatukan dalam satu buku. Meski saling bertautan tapi rasa bahasanya kurang ’hidup’. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi bobot dari buku ini karena data yang dicantumkan sangat bagus dan diperlukan bagi para pejuang Islam yang berupaya menyerang Kapitalisme-Sekularisme ini. Bekal untuk dakwah dan mengemasnya kembali untuk kemudian disampaikan kepada masyarakat secara umum.

Ada kabar gembira bagi Anda yang masih belum puas dengan membaca buku ini, karena el-Moesa Production dalam waktu dekat akan segera meluncurkan karya ini dalam bentuk visual, format VCD. Kita nantikan saja. Semoga buku dan VCD ini nantinya menjadi penyemangat dan penambah wawasan untuk menghancurkan bersama-sama the satanic ideology tersebut. Percayalah, meski Kapitalisme tampak digdaya saat ini dan diperjuangkan serta diterapkan banyak negara, tapi Kapitalisme dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh. Menurut George Ritzer dan Douglas J Goodman (keduanya pakar sosiologi) menjelaskan dalam bukunya (Modern Sociological Theory) bahwa Kapitalisme cenderung menaburkan bibit kehancuran bagi dirinya sendiri. Ya, Kapitalisme memang sudah cacat sejak lahir. Jadi insya Allah seharusnya akan lebih gampang untuk menguburnya. Allahu Akbar! [O. Solihin]


Sponsored Links
jual KPOP, kosmetik, sepatu, dresses, tas ,aksesoris, barang unik import dari korea,usa, china dan jepang asli
 
Cari clodi & insert? Kami distributor resmi Enphilia & sole distributor Juno Microfiber insert. Enphilia mulai dari 35rb & Juno insert cuma 15rb! Reseller are welcome!
fida77 wrote on Sep 5, '07
wah nilainya 5 bintang, bener2 kudu punya bukunya niy... trims Kang Oleh n' salaam ukhuwah
prokhilafah wrote on Sep 12, '07
Berapa harganya Kang?
kopiradix wrote on Apr 1, '08
kalo kang Oleh kasih bintang lima, harus beli nih
telagaalkautsar wrote on May 13, '08
Laladon euy ..deket pisan ieu mah ma imah urang ..... :D
rachmatsunnara wrote on Oct 15, '08
sy kasih bintang tujuh saja, semoga bisa menjadi penawar pusing pening kepala para penguasa komprador kapitalis yg membebek pada Barat...
miatinarevolt wrote on Jan 7, '09
Tumbangkan kapitalisme, Tegakkan Khilafah Islamiyyah, Hidupkan Syariat Islam, bersama Hizbud Dakwah Islam (HDI).
kopiradix wrote on Jan 7, '09
ReviewReviewReviewReviewReview
Subhanallah, ada VCD-nya juga ya? Mantap
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)

0 out of 5 stars
   

Pendidikan ‘made in’ Kapitalisme

Pendidikan ‘made in’ Kapitalisme

PDFCetakE-mail



STUDIA Edisi 300/Tahun ke-7 (3 Juli 2006)

Ujian Akhir Nasional sudah digelar. Hasilnya pun sudah bisa dilihat. Ada tawa bahagia dari peserta (tentu bagi yang lulus dong. Kalo yang nggak lulus tertawa bahagia itu namanya abnormal). But, ada juga yang merasa kecewa, sedih dan nggak nyangka kalo sampe nggak lulus UAN. Malah lebih parah lagi ada yang udah diterima di perguruan tinggi negeri melalui sistem PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), eh, UAN-nya dinyatakan nggak lulus. Gimana tuh? Bingung kan?

Ada dari teman kita di sebuah sekolah kejuruan teknik di Bekasi yang nggak terima hasil UAN-nya jeblok lalu nekat ampir menggosongkan sekolahnya sendiri. Meski aksinya nggak sampe bener-bener ngebakar sekolahnya seperti yang dibombastiskan beritanya di media massa—karena faktanya cuma komputer, printer, dan sejumlah arsip di sebuah ruangan sekolah yang ludes dilalap api—tapi jelas kalo itu adalah reaksi yang negatif banget. Bahkan ada juga teman kita yang gelap pikirannya, hingga nekat mau bunuh diri. Aduh, kasihan banget ya?

Ya, berat memang beban mereka, apalagi yang nggak lulus hanya karena nilai satu mata pelajarannya jeblok. Seperti teman kita, Bayu Taruna, yang malah udah keterima di Universitas Brawijaya, Malang, tapi di sekolahnya, SMAN 71 Duren Sawit Jakarta Timur, Bayu dinyatakan nggak lulus UAN, karena nilai pelajaran Matematika yang berhasil diraih Bayu hanya 4,0. Meski nilai Bahasa Inggrisnya 9,2 dan Bahasa Indonesia 8,2, Bayu tetap dinyatakan nggak lulus. Duh, gimana nggak kecewa tuh?

Sobat muda muslim, kita juga empati sama kamu semua yang kebetulan gagal UAN-nya. Memang kecewa dan sedih, apalagi kalo selama sekolah kita tuh udah nunjukkin prestasi kita yang hebat dibanding teman-teman lain, eh, pas UAN nilai kita jeblok.
Mungkin wajar juga kalo kamu yang merasa kecewa kemudian unjuk rasa ngedatangin Depdiknas atau malah DPR untuk minta dukungan agar diluluskan, atau seenggaknya minta UAN diulang secepatnya, ketimbang harus nungguin setahun lagi. Sebagai reaksi sesaat, itu masih bisa dimaklumi. Karena rasa marah, kecewa, kesal dan sedih bercampur jadi satu. Nggak nyangka kalo sampe nggak lulus.

Memang sih kalo dilihat sekilas nggak bisa dibilang adil. Gimana nggak, ternyata UAN menjadi satu-satunya syarat kelulusan siswa. Nggak ada penilaian lain untuk menentukan kelulusan. Artinya, hasil UAN jadi mutlak dan nggak bisa diganggu-gugat oleh siapa pun. Sampe-sampe Mendiknas Bambang Soedibyo dengan tegas bilang kalo UAN nggak bakalan bisa diulang, bahkan beliau berkomentar, “Muridnya juga harus introspeksi. Apakah murid tersebut belajar untuk ujian nasional atau tidak. Kalau dia lulus PMDK, tapi dia tidak lulus ujian nasional, perguruan tingginya yang harus introspeksi. Apakah penilaiannya sudah benar? Kok dia bisa diterima, padahal dia tidak lulus ujian nasional. Sudah diterima di Unibraw tapi nilai matematikanya 4,” kata Soedibyo (metrotvnews.com, 20/06/2006)

Senada dan seirama dengan Mendiknas Bambang Soedibyo, Wapres Jusuf Kalla juga menolak usulan kalo UAN harus diulang. Menurutnya, “Ujian ulang tidak adil bagi siswa yang telah bekerja keras” (metrotvnews.com, 23/06/2006)

Sobat, tulisan di buletin kesayangan kamu ini sekadar memberikan wacana bahwa inilah potret dunia pendidikan kita saat ini. Inilah kualitas pendidikan ‘made in’ Kapitalisme. Eit, tentu kita punya alasan dong ketika berani nuduh Kapitalisme sebagai biangnya dari kasus ini. Bukti yang udah ketahuan banget adalah produk kehidupan kita saat ini. Bukan cuma gaya hidup sehari-hari yang rusak, tapi kurikulum pendidikan yang jauh dari ajaran Islam. Sumpah deh!


Kurikulum yang sekularistik

Bro, nggak heran dong kalo Kapitalisme mengadopsi sekularistik. Wong sekularisme adalah akidahnya Kapitalisme kok. Sebuah sistem pasti akan melahirkan produk sesuai dengan asas yang menjadi landasan ideologinya. So, nggak usah heran kalo kurikulum pendidikan saat ini yang merupakan bagian dari produk sistem pun akhirnya sesuai kepentingan sistem itu sendiri. Jadinya? Ya ikut-ikutan sekuler dong!
Nah, kenapa bisa disebut sekuler? Perlu kita ingetin lagi nih bahwa sekuler itu adalah memisahkan antara agama dan kehidupan. Artinya aturan agama nggak boleh dan bahkan terlarang untuk ikutan ngatur kehidupan dunia. Udah ada jatahnya masing-masing. Nggak boleh saling ikut campur dan saling intervensi. Buktinya, kita bisa nemuin ada orang yang memiliki nama islami, tapi kelakuannya jauh dari ajaran Islam.
Berasal dari keluarga Muslim, tapi kehidupannya bertentangan dan bahkan menentang Islam. Ini buah sekularisme, Bro.

Oya, jangan kaget, sekularisme juga ikut menghancurkan pemeluk agama selain Islam, lho. Nggak percaya? Hmm... di negeri-negeri Barat, kini pemeluk agama Nasrani kian nggak taat pada ajarannya karena digerus sekularisme. Di Amsterdam, sebagai misal, 200 tahun lalu, 99 persen penduduknya beragama Kristen. Sekarang, hanya tersisa sekitar 10 persen saja yang dibaptis dan ke gereja. Sebagian besar mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. Waduh!
Di Prancis, yang 95 persen penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13 persennya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Pada 1987, di Jerman, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya mengatakan, bahwa “agama sudah tidak diperlukan lagi.”

Di Finlandia, yang 97 persen Kristen, hanya 3 persen saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90 persen Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3 persen saja yang rutin ke gereja tiap minggu. (Adian Husaini dalam tulisannya di Republika, 27 Juli 2004)

Nah, di negeri kita juga sama. Mungkin kalo di KTP sih pas di kolom agama tercantum Islam. Tapi, berapa persen sih yang taat menjalankan agamanya? Seenggaknya kalo pelaksanaan shalat aja yang jadi ukurannya, berapa persen sih yang rajin shalat? Memang sih harus ada survey. Tapi yang pasti, kalo ngelihat gelagatnya, masyarakat kita juga udah sekuler, lho. Lihat aja produknya saat ini. Siapa sih yang jadi ‘bintang utama’ acara Buser, Sergap, Patroli, TKP dan sejenisnya?

Yap, mereka yang jadi bintang utama itu tangannya diborgol dan mengenakan baju bertuliskan “tahanan”. Banyak di antara mereka yang namanya tuh islami, jelas orang Islam. Tapi, ya kelakuannya udah jauh dari ajaran Islam. Eh, saya nulis gini bukan sok suci lho, tapi sekadar renungan aja ternyata banyak dari kita yang udah jadi sekuler. Benar-benar tragedi, Brur!

Itu sebabnya, jangan heran juga kalo kurikulum pendidikan nasional pun muatannya sekuler, mengejar aspek materi alias materislitik belaka. Alat ukur kesuksesan hanya dinilai dari keberhasilan secara materi. Tengok deh, sekolah bukan semata tempat mencari ilmu, tapi sudah disulap untuk ditargetkan mencari pekerjaan bahkan lebih parah lagi sekadar tempat sosialisasi dan menerapkan gaya hidup seperti yang kerap ditampilkan di banyak tayangan sinetron remaja saat ini. Menyedihkan banget.

Kurikulum pendidikan yang sekularistik itu juga nyata banget dari adanya pembagian sekolah umum dan sekolah agama. Pemisahan ini jelas merupakan bagian dari upaya sekularisme di bidang ilmu pengetahuan. Sebab, yang hebat tuh kalo menghasilkan pelajar yang handal di bidang keterampilan ilmu-ilmu umum, tapi juga beriman dan bertakwa. Ini baru hebat. Sebagai contoh, salah seorang imam mazhab yang terkenal, yakni Imam Abu Hanifah, selain master di bidang ilmu fikih dan tsaqafah Islam, tapi beliau juga pakar di bidang ilmu kimia. Wuih, keren banget kan?

Karena udah dibiasakan dipisah-pisahkan aturan agama dan aturan negara, maka akibatnya dalam kehidupan sehari-hari pun nampak jelas perilaku sekuler itu. Ngakunya muslimah, tapi keluar rumah nggak pake kerudung dan jilbab. Ngakunya muslim, tapi makan dan minum yang haram. Ah, menyedihkan banget deh. Itu baru soal pakaian dan minuman lho, belum pelaksanaan syariat yang lainnya. Jadi, kita tuh sering ‘malpraktek’ dalam berIslam alias melaksanakan ajaran Islam nggak sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. dan RasulNya.


Kenakalan negara dan masyarakat

Jangan selalu menyalahkan remaja dan menyebutnya: kenakalan remaja. Why? Sebab remaja lebih tepat sebagai korban. Karena yang lebih bertanggung jawab adalah masyarakat dan negaranya. Negara dan masyarakat telah berbuat nakal karena telah terbukti menerapkan aturan yang menyesatkan dan membuat sengsara kebanyakan orang. Yap, negara dan masyarakat menerapkan Kapitalisme-Sekularisme. Ini sebetulnya biang keroknya.

Mau bukti? Kalo memang benar negara dan masyarakat ingin memajukan pendidikan di negeri ini, maka sudah seharusnya memberikan dukungan bagi pendidikan anak-anak bangsanya. Nggak kayak sekarang, bangunan sekolahnya aja banyak yang nggak layak untuk ditempati. Bahkan gaji guru yang mengabdi di desa-desa jauh lebih kecil kalo nggak mau dikatakan tekor sehingga harus membagi perhatian mendidik dengan mencari nafkah tambahan biar dapur tetep ngebul.

Sobat, dari dua faktor ini aja, udah bisa ditebak gimana bisa menghasilkan kualitas pelajar yang oke dan handal. Tempat belajar nggak nyaman, dan gurunya setengah hati mendidiknya. Belum lagi soal kurikulum, ditambah lagi dengan biaya yang mahal (artinya nggak semua orang bisa menyekolahkan anaknya), udah gitu masih ada juga beban biaya untuk beli buku pelajaran yang tiap semester berganti dan lain sebagainya. Orangtua kita yang nggak mampu pasti ngebul tuh ubun-ubunnya mikirin soal ini.

Belum lagi kalo bicara soal gaya hidup. Sudahlah di sekolah nggak mendapatkan pelajaran yang memadai, di lingkungan sekitar justru pelajar dibombardir dengan suguhan yang menjauhkan dari tradisi yang berkaitan dengan keilmuan. Tengok deh acara televisi macam KDI, AFI, Indonesian Idol, API, ABG, dan sejenisnya. Marak dan gemerlapan menyedot perhatian dan menciptakan mimpi untuk menjadi bintang tenar dan tajir dalam sekejap.

Bersamaan dengan itu tradisi keilmuan nyaris nggak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Mereka yang berjaya di bidang iptek seringkali dianggap biasa, ketimbang remaja yang menang kontes KDI atau AFI. Menyedihkan banget. Wajar dong, kalo banyak juga yang kemudian malas belajar karena udah dikondisikan dengan tren gaya hidup serba instan, fermisif, bahkan hedonis.

Sobat, tentu saja kondisi akibat kenakalan negara dan masyarakat ini udah merugikan semuanya, bukan cuma kita-kita yang jadi korban. Tapi semua mendapatkan akibatnya. Bayangin deh, kalo banyak anak yang nggak berilmu, kira-kira 10 tahun ke depan kayak apa bangsa ini? Kalo banyak dari kita lebih memilih gaya hidup glamour ketimbang tradisi keilmuan dan keimanan, mau jadi apa kita 10 tahun ke depan?
So, negara memang harus bertanggung jawab soal ini. Masyarakat juga (sekolah, pengusaha media massa, para ulama, dan tokoh masyarakat lainnya) harus peduli dan cinta sama generasi muda. Jangan korbankan masa depan generasi ini dengan model pendidikan (termasuk tentunya kehidupan secara umum dan luas) yang sekuler.

Sobat, insya Allah kejadian model begini hanya bisa diselesaikan dengan Islam. Karena Islam memang solusi bagi segala problem kehidupan di dunia. Percayalah. Asal, satu syaratnya: Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Kalo nggak? Mimpi kali ye!

Khusus dalam bidang pendidikan nih, menurut Islam, sekolah diposisikan sebagai sarana pertama untuk mengenalkan Allah Swt., akidah Islam, dan sistem hukum Islam, serta mendidik siswa agar paham dan mengerti praktik sistem hukum Islam. Sebab, Islam bukan sekadar ajaran ritual, melainkan sistem hidup yang bersifat ideologis dan politis. Setelah itu, barulah sekolah ditempatkan sebagai wahana untuk menuntut ilmu, sains, dan teknologi untuk memperoleh manfaat dari hasil-hasil temuan dan produk akal manusia berupa industri dan sains.

Dengan demikian, tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan tentu saja pandai menghiasi kehidupannya dengan amal shaleh. Lha, kalo sekarang? Duh, Kapitalisme udah menggerus kepribadian kita: akhlak yang rusak, termasuk kualitas penguasaan ilmu pengetahuannya yang kurang bagus. Jadi, kalo masih banyak pelajar yang nggak lulus UAN, tentu kesalahan bukan cuma pada pelajar tersebut, tapi ideologi yang mengatur kehidupan ini yang wajib disalahkan. Itu sebabnya, mending “talak tiga” aja terhadap Kapitalisme, dan ganti dengan Islam.

Wikileaks: 2004, Rakyat Indonesia Memilih Partai Sekular

Wikileaks: 2004, Rakyat Indonesia Memilih Partai Sekular
JAKARTA Situs whistler blower WikiLeaks membeber dokumen laporan untuk Kongres AS mengenai sejumlah tokoh politik Indonesia yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wiranto, dan Megawati Soekarnoputri, khususnya terkait Pemilu 2004. SBY dijuluki sebagai “Jenderal Pemikir”, Wiranto dikesankan sebagai ancaman bagi AS, dan Megawati dinilai pemerintahannya cenderung korupsi.
Sebutan SBY “Jenderal Pemikir” itu termaktub dalam sebuah laporan Congressional Reseach Service (CRS) bertajuk Report RS21287 yang disusun oleh Bruce Vaughn, pejabat Foreign Affairs, Defense and Trade Division. Laporan sejatinya sangat singkat mengenai hasil pemilu yang dimenangkan oleh SBY.
Laporan itu judul lengkapnya “Analyst in Southeast and South Asian Affairs”. Di laporan itulah SBY ditulis sebagai the thinking general. Bukan hanya itu, Amerika juga menyimpulkan sukses pemilu Indonesia pada tahun 2004 mengukuhkan dominasi partai sekuler atau non-agama, seperti Partai Demokrat, Golkar, dan PDI-P yang merupakan tiga partai terbesar di Tanah Air.
CRS sendiri merupakan tangan riset kebijakan publik dari Kongres. Sebagai cabang legislatif, CRS bekerja secara eksklusif dan langsung bertanggung jawab kepada anggota Kongres dan komite-komite yang mereka bentuk dalam konteks rahasia atau confidential. Selain memuji SBY, dokumen ini juga mengungkapkan adanya ketakutan AS bila Wiranto menjadi pemenang Pemilu 2004. Amerika menilai hubungan kedua negara akan rumit karena Kongres menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran HAM di Timor Timur.
Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Partai Golkar, saat dikonfirmasi terkait bocoran dokumen AS itu, tak mau menuding bahwa kekalahan Wiranto pada Pemilu 2004 lalu disebabkan oleh campur tangan Amerika. “Saya belum melihat adanya indikasi ke sana (campur tangan AS),” katanya saat dihubungi Jumat (3/12) kemarin.
http://www.dutamasyarakat.com/artike…a-wiranto.html
————
Makanya, kalau tahun 2014 UU Politik berhasil di revisi dengan mensyaratkan minimum thereshold diatas 5% … diperkirakan parpol Islam seperti PKB, PPP, dan PAN dan sangat mungkin PKS, akan terlempar dari sistem politik karena tak akan terwakili lagi di Parlemen/DPR serta di Kabinet/Pemerintahan. Bocoran Wikileaks [un menyebut kemenangan partai sekuler dalam pemilu yad

Indonesia Menjadi Negara Sekuler ???

AS:Indonesia Berhasil Menjadi Negara Sekuler dg Sedikit Sekali Pengaruh Politik Islam

February 12, 2011 – 10:26 am AS Membandingkan Kejatuhan Mubarak dengan Soeharto
Sabtu, 12 Februari 2011 | 12:07 WIB TEMPO Interaktif, New York – Laman The Wall Street Journal, Jumat, menyebut pemerintah Amerika Serikat memakai pergolakan di Indonesia pada pertengahan 1998 menjadi model transisi kekuasaan yang sukses di negara yang mayoritas penduduknya Muslim.
Mereka mengerahkan beberapa ahli kebijakan luar negeri untuk menganalisi apa yang membuat Indonesia tidak jatuh ke tangan para tokoh Islam –padahal mayoritas penduduknya Muslim–, namun tetap sekuler dengan dukungan dari militernya.
Seorang pejabat Gedung Putih yang tak disebutkan namanya, mengatakan revolusi di Indonesia dikenal berhasil membuka sistem politik dan ekonomi yang paling transparan di Asia Tenggara. Pertanyaan, bagaimana Indonesia berhasil menyeimbangkan peran Islam dan kelanjutan peran militer di pemerintahan?
Karen Brooks, ahli politik luar negeri yang membantu mengamati Indonesia pada pemerintahan Clinton dan Bush, mengatakan pemerintahan Indonesia berhasil berkembang menjadi negara sekuler dengan sedikit sekali pengaruh dari politik Islam. Hal ini ujar Brooks, adalah karena pemilu selanjutnya dilakukan setahun setelah penggulingan Soeharto, sehingga partai sekuler mempunyai waktu untuk berkembang.
Sementara selama 30 tahun menuju transformasi demokratis Indonesia, kata Brooks, partai Islam terlihat kesulitan mengumpulkan suara mayoritas. Ini berbeda dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang bisa berkembang pesat. Selain itu, ia juga satu-satunya partai yang telah menyiapkan kampanye untuk pemilu selanjutnya. Di sinilah kekhawatiran Amerika itu. Mereka khawatir pada pemilu berikutnya partai ini akan berkuasa.
Presiden Amerika Serikat sendiri, Barack Obama seperti dilansir VOA menyambut baik pengunduran diri Mubarak itu. Mubarak, kata Obama, telah menanggapi tuntutan rakyat Mesir yang haus akan perubahan. "Suara rakyat Mesir telah didengar," katanya. Mesir, kata dia, kini harus pindah ke kekuasaan sipil dan demokratis.
Meski begitu, Obama mengingatkan bahwa pengunduran diri Mubarak ini hanyalah awal transisi di negara itu. "Ke depan akan terbentang hari-hari yang sulit," kata Obama dalam pidatonya di Gedung Putih, Jumat (11/2).
http://www.tempointeraktif.com/hg/ti…313036,id.html

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME

Kamis, 08 Januari 2009

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME

Zionisme dibawa ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria. Baik Herzl maupun rekan-rekannya adalah orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang sangat lemah, jika tidak ada sama sekali. Mereka melihat "Keyahudian" sebagai sebuah nama ras, bukan sebuah masyarakat beriman. Mereka mengusulkan agar orang-orang Yahudi menjadi sebuah ras terpisah dari bangsa Eropa, yang mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan bahwa penting artinya bagi mereka untuk membangun tanah air mereka sendiri. Mereka tidak mengandalkan pemikiran keagamaan ketika memutuskan tanah air manakah itu seharusnya. Theodor Herzl, sang pendiri Zionisme, suatu kali memikirkan Uganda, dan ini lalu dikenal sebagai "Uganda Plan." Sang Zionis kemudian memutuskan Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai "tanah air bersejarah bagi orang-orang Yahudi", dibandingkan segala kepentingan keagamaan apa pun yang dimilikinya untuk mereka.

Petani dan Tembok Ratapan di depannya, yang menggambarkan pemimpin Zionis Max Nordau, Theodor Herzl, dan Prof. Mandelstamm, melukiskan "Impian Zionis."
Sang Zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini. Organisasi Zionis Dunia yang baru melakukan upaya propaganda besar di hampir semua negara yang berpenduduk Yahudi, dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan bangsa-bangsa lainnya dan bahwa mereka adalah "ras" yang terpisah. Oleh karena itu, mereka harus bergerak dan menduduki Palestina. Sebagian besar orang Yahudi mengabaikan himbauan ini.
Menurut negarawan Israel Amnon Rubinstein: "Zionisme (dulu) adalah sebuah pengkhianatan atas tanah air mereka (Yahudi) dan sinagog para Rabbi".15 Oleh karena itu banyak orang-orang Yahudi yang mengkritik ideologi Zionisme. Rabbi Hirsch, salah satu pemimpin keagamaan terkemuka saat itu berkata, "Zionisme ingin menamai orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional…. yang merupakan sebuah penyimpangan."16
Pemikir Islam Prancis yang terkenal Roger Garaudy melukiskan hal ini dalam sebuah pembahasan:
Musuh terburuk keyakinan Yahudi yang jauh ke depan adalah logika para nasionalis, rasis, dan kolonialis dari Zionisme kebangsaan, yang dilahirkan dari nasionalisme, rasisme, dan kolonialisme abad ke-19 di Eropa. Logika ini, yang menginspirasi semua penjajahan Barat dan semua perang antara satu nasionalisme dengan nasionalisme lainnya, adalah sebuah logika yang membunuh diri sendiri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada keamanan di Timur Tengah kecuali jika Israel meninggalkan paham Zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim, yang adalah warisan bersama, bersifat keagamaan, dan persaudaraan dari tiga agama wahyu: Yudaisme, Nasrani, dan Islam.17
Dengan cara ini, Zionisme memasuki politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang menganut paham bahwa Yahudi seharusnya tidak hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Pertama-tama, ini adalah gagasan yang keliru yang menciptakan masalah parah bagi dan tekanan atas orang-orang Yahudi yang hidup dalam belenggu ini. Kemudian, bagi orang-orang Islam di Timur Tengah, paham ini membawa kebijakan Israel tentang pendudukan dan perebutan wilayah bersama-sama dengan kemiskinan, teror, pertumpahan darah, dan kematian.
Pendeknya, Zionisme sebenarnya adalah sebuah bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, bukan dari agama. Akan tetapi, seperti dalam bentuk nasionalisme lainnya, Zionisme juga berusaha menggunakan agama untuk tujuannya sendiri.
Kesalahan Penafsiran Taurat oleh Para Zionis
Taurat adalah sebuah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Musa. Allah berkata dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)…" (Al-Qur'an, 5:44). Al-Qur'an juga berkata bahwa Taurat kemudian akan dikotori oleh perkataan manusia di dalamnya. Inilah kenapa apa yang kita miliki saat ini adalah "Taurat yang menyimpang."
Akan tetapi, sebuah penelitian lebih dekat mengungkap adanya kebanyakan kebenaran agama yang terkandung dalam Kitab yang pernah diwahyukan ini, seperti keimanan kepada Allah, penghambaan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, cinta kepada Allah, keadilan, kasih sayang, cinta kasih, melawan kekejaman dan ketidakadilan, yang semuanya ditemukan di seluruh Taurat dan kitab lainnya dari Perjanjian Lama.
Terlepas dari ini, perang yang terjadi dalam sejarah dan pembunuhan yang terjadi karenanya juga disebutkan di dalam Taurat. Jika manusia ingin menemukan sebuah dasar, meskipun dengan memutarbalikkan kenyataan, untuk kekejaman, pembantaian, dan pembunuhan, mereka bisa menjadikan bab-bab dalam Taurat tersebut sebagai acuan. Zionisme memilih cara mutlak yang mengesahkan terorismenya, yang sebenarnya adalah sebuah terorisme fasis. Dan, ini sangat berhasil. Misalnya, Zionisme menggunakan bab-bab (dari Taurat) yang terkait dengan perang dan pembantaian untuk mengesahkan pembantaian orang-orang Palestina yang tak berdosa. Padahal, ini adalah sebuah penafsiran menyimpang yang disengaja. Zionisme menggunakan agama untuk mengesahkan fasismenya dan ideologi rasisnya.
Para Zionis juga mendasarkan pernyataan mereka pada penafsiran mereka tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan "orang pilihan" yang pernah dikaruniakan Allah kepada orang Yahudi suatu kali. Beberapa ayat Al-Qur'an berhubungan dengan persoalan ini:
Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat45. (Qur'an, 2:47)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Qur'an, 45:16)
Al-Qur'an menerangkan bagaimana pada suatu kali Allah memberkati orang-orang Yahudi, dan bagaimana pada kali lainnya Dia menjadikan mereka berkuasa atas bangsa-bangsa lain. Namun ayat-ayat ini tidaklah menyiratkan "orang pilihan" seperti apa yang dipahami orang-orang Yahudi radikal. Ayat-ayat tersebut menunjukkan kenyataan bahwa banyak nabi-nabi yang datang dari keturunan ini, dan bahwa orang-orang Yahudi memerintah di daerah yang luas pada saat itu. Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa dengan berkat kedudukan kekuasaan mereka, mereka "lebih diutamakan di atas semua manusia lain." Ketika mereka menolak Isa, ciri ini pun berakhir.
Al-Qur'an menyatakan bahwa orang yang terpilih tersebut adalah para nabi dan orang-orang beriman yang Allah tunjuki kepada kebenaran. Ayat-ayat ini menyebutkan bahwa para nabi itu telah dipilih, ditunjuki jalan yang benar, dan diberkati. Berikut ini adalah beberapa ayat yang terkait dengan persoalan ini:
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya90 di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Qur'an, 2: 130)
Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (Qur'an, 6:87-89)
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Qur'an, 19:58)
Namun orang-orang Yahudi radikal, yang mempercayai keterangan menyimpang, melihat "orang yang terpilih" sebagai ciri kebangsaan sehingga mereka menganggap setiap orang Yahudi terlahir unggul dan bahwa Bani Israil selamanya dianggap unggul dari semua manusia lainnya.
Penyimpangan kedua yang terbesar dari sudut pandang ini menampilkan anggapan keunggulan ini sebagai "suatu perintah untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain." Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam beberapa hal pada Yudaisme Talmud. Menurut pandangan ini, hal yang lumrah bagi orang-orang Yahudi untuk menipu orang-orang non-Yahudi, untuk merampas hak milik dan bangunan mereka, dan, ketika diperlukan bahkan membunuh mereka, termasuk wanita dan anak-anak.18 Kenyataan menunjukkan, semua ini adalah kejahatan yang melecehkan agama sejati, karena Allah memerintahkan kita untuk melestarikan keadilan, kejujuran, dan hak orang-orang tertindas, dan hidup dalam kedamaian dan cinta.
Lebih jauh lagi, pernyataan anti-non-Yahudi ini bertentangan dengan Taurat itu sendiri, seperti ayat-ayat yang mengutuk penindasan dan kekejaman. Akan tetapi, ideologi rasis Zionisme mengabaikan ayat-ayat seperti itu untuk menciptakan sistem kepercayaan berdasarkan amarah dan kebencian. Tanpa mempedulikan pengaruh ideologi Zionis, beberapa orang Yahudi yang benar-benar percaya pada Allah akan mengetahui bahwa agama mereka mengajarkan mereka untuk tunduk pada ayat-ayat lainnya ini yang memuji perdamaian, cinta, kasih, dan perilaku etis, seperti:
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. (Perjanjian Lama, Imamat, 19:15-17)
Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?'' (Perjanjian Lama, Mikha, 6:8)
Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu … (Perjanjian Lama, Keluaran, 20:13-17)
Menurut Al-Qur'an pun, perang hanyalah khusus sebagai sarana mempertahankan diri. Bahkan jika perang akan diumumkan dalam suatu masyarakat, kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi. Suatu perintah untuk membunuh wanita, anak-anak, dan orang-orang tua tidak dapat disampaikan oleh agama manapun, kecuali hanya oleh tipu-daya yang berkedok agama. Dalam Al-Qur'an, Allah tidak hanya mengutuk jenis kebencian seperti ini namun juga menyatakan bahwa semua manusia sama dalam pandangan-Nya dan bahwa kelebihan seseorang itu tidaklah didasarkan pada ras, keturunan, atau segala kelebihan keduniaan lainnya, melainkan pada ketakwaan - cinta bagi dan kedekatan kepada Allah.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qur'an, 49:13)
Terlepas dari kedok agamanya yang palsu, alasan sesungguhnya dari ketidakmanusiawian dan kekejaman Zionisme adalah hubungannya dengan mentalitas penjajahan Eropa di abad kesembilan belas. Penjajahan bukan semata sebuah sistem politik atau ekonomi; penjajahan juga sekaligus sebuah ideologi. Zionisme, yang percaya bahwa negara-negara industri Barat mempunyai hak untuk menjajah dan menduduki bangsa-bangsa terkebelakang di wilayah ini, melihat ini sebagai akibat alami dari sebuah proses "seleksi alam" internasional. Dengan kata lain, Zionisme adalah sebuah produk Darwinisme Sosial. Dalam kerangka ideologi ini, Inggris menjajah India, Afrika Selatan, dan Mesir. Prancis menjajah Indocina, Afrika Utara, dan Guyana. Karena terinspirasi oleh contoh-contoh ini, para Zionis memutuskan untuk menjajah Palestina bagi orang-orang Yahudi.
Kolonialisme Zionis menjadi jauh lebih buruk dibanding "rekan-rekannya" Inggris dan Prancis, karena paling tidak mereka (Inggris dan Prancis) mengizinkan daerah pendudukan mereka untuk hidup (setelah menyerah) dan bahkan memberi sumbangan kepada negara pendudukan dengan pendidikan, pemerintahan yang adil, dan prasarana. Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, para Zionis tidak mengakui hak-hak orang Palestina untuk hidup; mereka melakukan pembersihan etnis, dan tidak memberi apa pun kepada orang-orang yang mereka jajah. Anda mungkin bahkan berkata mereka tidak memberi satu batu bata pun bagi orang-orang Palestina.
Pertentangan Zionisme dengan Yahudi
Sifat lainnya dari Zionisme adalah kepercayaannya kepada tema-tema propaganda palsu, mungkin yang paling penting adalah semboyan "sebuah tanah tanpa manusia untuk seorang manusia tanpa tanah." Dengan kata lain, Palestina, "tanah tanpa manusia" harus diberikan kepada orang-orang Yahudi, "manusia tanpa tanah." Dalam 20 tahun pertama abad kedua puluh, Organisasi Zionis Dunia menggunakan semboyan ini dengan sepenuh hati untuk meyakinkan pemerintahan Eropa, khususnya Inggris dan rakyatnya bahwa Palestina harus diserahkan kepada orang-orang Yahudi. Pada tahun 1917, akibat kampanye persuasifnya, Inggris mengumumkan Deklarasi Balfour bahwa "Pemerintahan Yang Mulia memandang pentingnya pendirian di Palestina sebuah tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi… di Palestina."
Kenyataan menunjukkan, semboyan "tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah" ini tidaklah benar. Ketika gerakan Zionis dimulai, orang-orang Yahudi tidaklah "tanpa tanah" dan Palestina pun bukannya tanpa manusia…
Orang-orang Yahudi tidaklah tanpa tanah karena sebagian besar mereka hidup di berbagai negara dengan damai dan aman. Khususnya di negara-negara industri Barat, persekutuan ibadat Yahudi tidak punya keluhan apa pun tentang kehidupan mereka. Bagi sebagian besar mereka, gagasan meninggalkan negara mereka untuk pindah ke Palestina tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Kenyataan ini akan muncul belakangan ketika ajakan Zionis untuk “Pindah ke Palestina” secara luas diabaikan. Dalam tahun-tahun berikutnya, orang-orang Yahudi anti-Zionis yang kita bicarakan ini secara aktif menolak gerakan Zionis melalui ikatan-ikatan yang mereka dirikan sendiri.
Menerima dukungan resmi dengan Deklarasi Balfour, para Zionis merasakan dirinya berada dalam keadaan yang sulit ketika banyak saudara-saudara Yahudinya menolak pindah. Dalam hal ini, pernyataan Chaim Weizman sangat menohok:
Deklarasi Balfour pada 1917 diputuskan di awang-awang… setiap hari dan setiap jam dalam 10 tahun terakhir ini, ketika membuka surat kabar, saya berpikir: kapan hembusan angin surga lainnya datang? Saya terguncang karena takut Pemerintah Inggris akan memanggil saya dan bertanya: “Beritahu kami, apakah Organisasi Zionis ini? Di manakah mereka, para Zionismu?”... Orang-orang Yahudi, mereka tahu, menentang kami; kami berdiri sendiri di sebuah pulau kecil, sebuah kelompok Yahudi yang amat kecil dengan masa lalu yang asing.19

Surat yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Inggris Sir Arthur Balfour pada Lord Rothschild yang dikenal sebagai “Deklarasi Balfour.” Kanan: gambar surat aslinya; Atas: Sir Balfour.
Oleh karena itu para Zionis mulai terlibat dalam “kegiatan-kegiatan khusus” untuk “mendorong” pindahnya orang Yahudi ke Palestina, bahkan memaksa jika diperlukan, seperti mengganggu orang-orang Yahudi di negara-negara asalnya dan bekerja sama dengan para anti-Semit untuk meyakinkan bahwa pemerintah akan mengusir orang-orang Yahudi. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence,), Vural Yayincilik, Istambul, 2002). Dengan demikian, Zionisme mengembangkannya sebagai gerakan yang mengganggu dan menteror rakyatnya sendiri.
Sekitar 100.000 orang Yahudi pindah ke Palestina antara tahun 1920-1929.20 Jika kita merenungkan bahwa ada 750.000 orang Palestina pada saat itu, maka 100.000 pasti bukanlah jumlah yang kecil. Organisasi Zionis memegang kendali penuh atas perpindahan ini. Orang-orang Yahudi yang menginjakkan kaki di Palestina ditemui oleh kelompok Zionis, yang menentukan di mana mereka akan tinggal dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan. Perpindahan ini didorong oleh pemimpin-pemimpin Zionis dengan berbagai imbalan. Akibat upaya yang giat di seluruh Palestina, Eropa, dan Rusia, penduduk Yahudi di Palestina mencatat pertumbuhan yang pesat dalam hal jumlah dan tempat tinggalnya. Bersamaan dengan adanya peningkatan kekuasaan Partai Nazi, orang-orang Yahudi di Jerman menghadapi tekanan yang semakin meningkat, suatu perkembangan yang semakin mendorong perpindahan mereka ke Palestina. Kenyataan Zionis mendukung penindasan Yahudi ini adalah sebuah fakta, dan masih menjadi salah satu rahasia sejarah yang paling terpendam. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence), Vural Yayincilik, Istanbul, 2002)
Pertentangan Zionisme dengan Masyarakat Arab
Para Zionis tidak diragukan lagi telah melakukan kekejaman terburuk kepada orang-orang yang memiliki “sebuah tanah tanpa manusia”: orang-orang Palestina. Semenjak hari ketika Zionisme memasuki Palestina, para pengikutnya telah berusaha untuk menghancurkan orang-orang Palestina. Untuk memberi ruang bagi para imigran Yahudi, baik dipengaruhi oleh gagasan Zionis maupun takut pada anti-Semitisme, orang-orang Palestina terus ditekan, diasingkan, dan diusir dari rumah-rumah dan tanah mereka. Gerakan untuk menduduki dan mengasingkan ini, yang didorong oleh didirikannya Israel pada tahun 1948, menghancurkan kehidupan ratusan ribu orang-orang Palestina. Hingga hari ini, sekitar 3,5 juta orang Palestina masih berjuang untuk kehidupannya sebagai pengungsi dalam keadaan yang paling sulit.
Semenjak 1920an, perpindahan orang Yahudi yang diorganisir oleh Zionis telah dengan mantap mengubah keadaan demografi Palestina dan telah menjadi sebab terpenting berkepanjangannya pertentangan. Statistik yang terkait dengan peningkatan penduduk Yahudi ini secara langsung membuktikan kenyataan ini. Angka-angka ini adalah petunjuk penting tentang bagaimana sebuah kekuatan penjajahan dari luar negeri, kekuatan tanpa hak hukum atas tanah tersebut datang untuk merampok hak-hak penduduk asli.
Menurut catatan-catatan resmi, jumlah imigran Yahudi ke Palestina meningkat dari 100.000 pada tahun 1920an menjadi 232.000 pada tahun 1930an.21 Hingga 1939, penduduk Palestina yang jumlahnya 1,5 juta jiwa telah termasuk 445.000 orang Yahudi. Jumlah mereka, yang hanya 10% saja dari jumlah penduduk 20 tahun sebelumnya, sekarang menjadi 30% dari seluruh penduduk. Pemukiman Yahudi juga berkembang pesat, dan per 1939 orang-orang Yahudi memiliki dua kali dari jumlah tanah yang mereka miliki pada tahun 1920an.
TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1920 (September-Oktober)
5.514
1921
9.149
1922
7.844
1923
7.421
1924
12.856
1925
33.801
1926
13.081
1927
2.713
1928
2.178
1929
5.249
Pengumuman resmi Deklarasi Balfour menandai awal perpindahan Yahudi besar-besaran dan cepat ke Palestina. Tabel di kiri memperlihatkan jumlah orang Yahudi yang pindah ke Palestina antara 1920 dan 1929. Selama masa ini, sekitar 100.000 orang Yahudi memasuki Palestina.
British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279
Per 1947, ada 630.000 orang Yahudi di Palestina dan 1,3 juta orang Palestina. Antara 29 November 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas oleh PBB, dengan 15 Mei 1948, organisasi teroris Zionis mencaplok tiga perempat Palestina. Selama masa itu, jumlah orang-orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil, dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 akibat serangan dan pembantaian. Beberapa di antaranya terbunuh, beberapa terusir.22
Dalam menjelaskan kebijakan pendudukan yang diterapkan Isrel pada tahun 1948, revisionis Israel yang terkenal, Ilan Pappe membuka sebuah rahasia, rencana tak tertulis untuk mengusir orang-orang Arab dari Palestina. Menurut rencana ini, setiap desa atau pemukiman Arab yang tidak menyerah kepada kekuatan Yahudi, yang tidak akan mengibarkan bendera putih, akan dibumihanguskan, dihancurkan, dan orang-orangnya diusir. Setelah keputusan ini dilaksanakan, hanya empat desa yang mengibarkan bendera putih; kota-kota dan desa-desa lainnya pasti akan menjadi sasaran pengusiran.23
Dengan cara ini, 400 desa Palestina terhapus dari peta selama 1949-1949. Hak milik yang ditinggalkan orang-orang Palestina dikuasai oleh orang-orang Yahudi, atas dasar Hukum Hak Milik Tak Ditempati. Hingga tahun 1947, kepemilikan tanah orang-orang Yahudi di Palestina adalah sekitar 6%. Pada saat negara Israel resmi didirikan, kepemilikan itu telah mencapai 90% dari seluruh tanah.24

Kelompok imigran ilegal yang diorganisir oleh pemimpin Zionis berhasil mencapai Palestina meski
menghadapi hambatan serius.
Setiap kedatangan orang Yahudi yang baru berarti kekejaman, tekanan, dan kekerasan baru terhadap orang-orang Palestina. Untuk memberi tempat tinggal bagi pendatang baru, organisasi Zionis menggunakan tekanan dan kekuatan untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya, yang telah mereka tempati selama berabad-abad, dan pindah ke padang pasir. Joseph Weitz, kepala komite transfer pemerintah Israel pada tahun 1948 menuliskan dalam buku hariannya pada 20 Desember 1940:
Pasti telah jelas bahwa tidak ada ruang untuk dua rakyat dalam negara ini. Tidak ada perkembangan yang akan membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita, untuk menjadi rakyat merdeka dalam negara kecil ini. Setelah orang-orang Arab dipindahkan, negara ini akan terbuka luas bagi kita; dengan masih adanya orang Arab yang tinggal, negara ini akan tetap sempit dan terbatas. Satu-satunya jalan adalah memindahkan orang-orang Arab dari sini ke negara-negara tetangga. Semua mereka. Tidak ada satu desa pun, atau satu suku pun yang harus tertinggal.25
TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1930
4.944
1931
4.075
1932
9.553
1933
30.327
1934
42.359
1935
61.854
1936
29.727
1937
10.536
1938
12.868
1939
16.405
Gelombang perpindahan orang-orang Yahudi tetap tak surut selama Palestina ditangani Inggris. Akibat upaya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Zionis, sebanyak 232.000 orang Yahudi bermukim di Palestina antara 1930-1939.

British British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279
Heilburn, ketua komite pemilihan kembali Jenderal Shlomo Lahat, walikota Tel Aviv, menyatakan pandangan Zionis tentang orang-orang Palestina dalam kata-kata berikut: "Kita harus membunuh semua orang-orang Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak."26 Banjir kedatangan imigran yang disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia II membuat orang-orang Palestina sadar akan apa yang terjadi, sehingga mulai menolak tindakan-tindakan yang tidak adil. Namun, setiap gerakan penolakan dihentikan dengan paksa oleh kekuatan Inggris. Orang-orang Palestina merasakan dirinya berada di bawah tekanan organisasi teroris Zionis di satu sisi, dan tentara-tentara Inggris di sisi lain. Dengan kata lain, mereka menjadi sasaran kepungan dua musuh.

Gambar di kiri menunjukkan orang-orang Yahudi yang pindah ke Palestina pada 1930. Gambar di atas memperlihatkan Yahudi yang tiba pada tahun 1947. Sebelum orang-orang Palestina mengerti apa arti perpindahan ini untuk masa depan mereka, perbandingan penduduk di daerah ini bergeser untuk keuntungan Yahudi.


1) Negara tempat perpindahan di mulai
2) Jumlah Imigran Yahudi
3) Akhir perpindahan
Program perpindahan yang diorganisir oleh para pemimpin Zionis diejawantahkan dengan kecepatan mengejutkan, dimulai pada awal 1900an. Orang-orang Yahudi yang pindah dari Afrika Utara, Uni Soviet, dan berbagai negara Timur Tengah menggeser perbandingan penduduk di Palestina untuk keuntungan orang-orang Yahudi.
Selama kekuasaan Inggris, lebih dari 1500 orang Palestina yang berjuang untuk kemerdekaannya terbunuh dalam pertempuran yang dilakukan oleh tentara-tentara Inggris. Di samping itu, ada pula beberapa orang Palestina yang ditahan oleh Inggris karena menentang pendudukan Yahudi. Tekanan pemerintah Inggris menyebabkan kekerasan serius terhadap mereka. Namun, terorisme Zionis tak terbandingkan kekejamannya. Kekejaman Zionis, yang pecah begitu berakhirnya Kekuasaan Inggris, meliputi pembakaran desa-desa, penembakan wanita, anak-anak, dan orang tua seolah sebuah hukuman mati; penyiksaan korban-korban tak berdosa,; dan pemerkosaan wanita-wanita dewasa dan remaja.
Sekitar 850.000 orang Palestina yang tidak tahan akan kekejaman dan penindasan ini meninggalkan tanah dan rumah mereka dan tinggal di Tepi Barat, Jalur Gaza, serta di sepanjang perbatasan Libanon dan Yordania. Sekitar satu juta orang Palestina masih tinggal di kamp-kamp pengungsian ini, sementara 3,5 juta lainnya tinggal sebagai pengungsi-pengungsi jauh dari tanah air mereka.
Tanah Palestina Dibagi


1) Wilayah Inggris
2) Wilayah Arab
3) Wilayah Yahudi
4) Wilayah Internasional
Ketika Palestina berada di bawah kendali Inggris setelah Perang Dunia I, gelombang besar perpindahan Yahudi ke daerah ini dimulai. Perpindahan ini lambat laun mulai meningkat pesat. Selama masa ini, beberapa badan didirikan untuk menentukan bagaimana orang Yahudi dan Palestina berbagi tanah. Badan yang terkenal adalah the Peel Commission, yang dikepalai oleh bekas Menteri Luar Negeri Inggris untuk India Lord Earl Peel, dan Komisi Morrison-Grady, yang dibentuk melalui kemitraan Amerika-Inggris. The Peel Commission mengusulkan agar pengawasan Inggris ditingkatkan dan daerah ini dibagi antar kedua kelompok, hanya Yerusalem dan Haifa yang tetap di bawah kendali Inggris dan akan terbuka untuk pengamat internasional. Morrison-Grady Plan mengusulkan agar Palestina dibagi atas empat daerah kantong terpisah. Namun, anggota badan ini tidak memperhitungkan bahwa tanah yang sedang mereka bagi ini dimiliki oleh orang-orang Palestina selama berabad-abad, dan tak seorang pun punya hak untuk memaksa mereka membaginya bertentangan dengan kehendak mereka.


Polisi Inggris ikut campur dengan paksa ketika orang-orang Palestina memprotes meningkat pesatnya perpindahan Yahudi. Akibat bentrokan di Jaffa pada 1933, sebanyak 30 orang Palestina tewas dan lebih dari 200 orang terluka.
Orang-orang Palestina yang hidup di kamp-kamp pengungsian hari ini menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar sekalipun. Mereka hanya bisa menggunakan air dan listrik jika orang Israel mengizinkannya, dan berjalan bermil-mil untuk bekerja demi upah yang amat rendah. Bagi mereka yang pergi bekerja atau mengunjungi kerabat yang tinggal di dekat kamp pengungsian, perjalanan itu seharusnya tidak lebih dari 15 menit saja. Akan tetapi, kejadiannya sering berubah menjadi mimpi buruk karena pemeriksaan identitas di tempat-tempat pemeriksaan yang sering dilakukan, di mana para tentara yang bertugas melakukan kepada mereka pelecehan, penghinaan, dan perendahan. Mereka tidak dapat berpindah dari tempat A ke tempat B tanpa passport. Dan karena tentara-tentara Israel sering menutup jalan untuk alasan “keamanan,” orang-orang Palestina sering tidak dapat pergi bekerja, pergi ke tempat yang ingin mereka tuju, atau bahkan untuk menuju rumah sakit ketika mereka jatuh sakit. Bahkan, orang-orang yang hidup di kamp-kamp pengungsian tiap hari hidup dalam rasa takut akan dibom, dibunuh, dilukai, dan ditahan, karena pemukiman orang-orang Yahudi fanatik di sekitar kamp menjadi ancaman sesungguhnya mengingat pelecehan dan serangan yang dilancarkan oleh penduduk Yahudi fanatiknya.
Tentu, diusir dari rumah dan dipaksa meninggalkan tanah asal seseorang mengakibatkan banyak kesulitan. Namun, inilah takdir Allah. Sepanjang sejarah, masyarakat Muslim telah terusir dari rumah mereka dan menghadapi berbagai jenis tekanan, penyiksaan, dan ancaman oleh orang-orang yang tak beriman. Para pemimpin yang kejam atau orang-orang yang menggunakan kekuasaan sering mengusir orang-orang yang tak berdosa dari tanah mereka hanya karena keturunan atau keyakinan mereka. Apa yang diderita oleh orang-orang Islam di banyak negara, juga orang-orang Palestina, telah diwahyukan di dalam Al-Qur'an. Namun Allah membantu semua orang yang tetap sabar, menunjukkan akhlak terpuji, dan menolak menakut-nakuti orang laii meskipun mengalami kekerasan. Seperti yang Allah nyatakan dalam Al-Qur'an:
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain259. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (Qur'an, 3:195)
Dengan demikian, akan datang suatu hari ketika semua orang-orang Palestina akan hidup dalam kedamaian, keamanan, dan persaudaraan. Tapi ini hanya dimungkinkan dengan menyebarluaskan akhlak Al-Qur'an antar manusia, karena akhlak seperti itu bersifat memaafkan dan toleran; mempertahankan kedamaian; menekankan pada cinta kasih; rasa hormat, dan kasih sayang; dan pengikutnya saling berlomba untuk beramal saleh. Ketika akhlak yang baik mengemuka, penindasan dan gangguan tidak dapat hidup. Dan lebih jauh lagi, ketika akhlak ini ditunjukkan dengan sepenuh hati, persaudaraan Muslim akan meningkat dan mereka akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebuah perjuangan intelektual melawan kekejaman. Oleh karena itu, menerapkan sistem tata prilaku Qurani akan membawa kita menuju akhir dari kekejaman tidak hanya di Palestina, melainkan juga di seluruh dunia. Kewajiban umat Islam adalah menyebarluaskan tata prilaku tersebut.
Imigran Yahudi yang diajarkan dengan semboyan “Setiap orang harus bekerja dengan satu tangan, dan memegang senjata di tangan lainnya” segera mengambil bagian dalam gerakan Zionis. Sementara beberapa orang mengorganisir demonstrasi dengan spanduk bertuliskan “Yerusalem adalah Milik Kami,” lainnya mengebom desa-desa Palestina.
Dalam bab-bab berikut, kita akan membahas lebih dekat rasa sakit dan kesulitan yang dialami selama bertahun-tahun oleh para pengungsi Palestina. Namun sebelum kita ke sana, kita akan melihat teror Zionis dan teknik yang digunakannya untuk mengusir orang-orang Palestina dari rumah-rumah mereka.
Akibat kepungan selama 3 tahun oleh kekuatan Israel, kamp pengungsian Bourj al-Barajneh di dekat Beirut hancur total. Foto ini menggambarkan keadaan kamp pada tahun 1988.

Orang-orang Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Libanon dan Yordania masih berjuang mengatasi kesulitan besar selama bertahun-tahun. Kelaparan, wabah penyakit, cuaca buruk, dan berlanjutnya rasa takut akan serangan baru Israel menjadi kenyataan hidup mereka. Pemandangan barak yang didirikan oleh PBB menunjukkan parahnya kemiskinan mereka.
15- Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19
16- Washington Post, Oktober 3, 1978
17- Roger Garaudy, "Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy", Samizdat, Juni 1996
18- For Talmud's anti-gentile remarks, see Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion:, The Weight of Three Thousand Years (AMEU: 1994)
19- United Nations Report, "The Origins and Evolution of the Palestine Problem 1917-1988," New York, 1990, tanda penegasan ditambahkan.
20- British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, (Memorandum to the United Nations Special Committee on Palestine) Jerusalem, 1947, hlm. 279.
21- Royal Institute of International Affairs, Great Britain and Palestine, (London, Chatham House: 1946), hlm. 61.
22- Ralph Schoenman, The Hidden History of Zionism, (Veritass Press: 1988), tanda penegasan ditambahkan
23- Baudouin Loos, "An Interview of Ilan Pappe," November 29 1999, http://msanews.mynet.net/Scholars/Loos/pappe.html.
24- Weite Diary, A 24617, entry dated 20 December 1940, Central Zionist Archives, Jerusalem, hlm. 1090-1091.

25. Uri Davis, Israel: An Apartheid State (London and New Jersey, Zed Books: 1987), Introduction, tanda penegasan ditambahkan.
26. Schoenman, The Hidden History of Zionism, tanda penegasan ditambahkan.