Monday, 25 April 2011

Wikileaks: 2004, Rakyat Indonesia Memilih Partai Sekular

Wikileaks: 2004, Rakyat Indonesia Memilih Partai Sekular
JAKARTA Situs whistler blower WikiLeaks membeber dokumen laporan untuk Kongres AS mengenai sejumlah tokoh politik Indonesia yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wiranto, dan Megawati Soekarnoputri, khususnya terkait Pemilu 2004. SBY dijuluki sebagai “Jenderal Pemikir”, Wiranto dikesankan sebagai ancaman bagi AS, dan Megawati dinilai pemerintahannya cenderung korupsi.
Sebutan SBY “Jenderal Pemikir” itu termaktub dalam sebuah laporan Congressional Reseach Service (CRS) bertajuk Report RS21287 yang disusun oleh Bruce Vaughn, pejabat Foreign Affairs, Defense and Trade Division. Laporan sejatinya sangat singkat mengenai hasil pemilu yang dimenangkan oleh SBY.
Laporan itu judul lengkapnya “Analyst in Southeast and South Asian Affairs”. Di laporan itulah SBY ditulis sebagai the thinking general. Bukan hanya itu, Amerika juga menyimpulkan sukses pemilu Indonesia pada tahun 2004 mengukuhkan dominasi partai sekuler atau non-agama, seperti Partai Demokrat, Golkar, dan PDI-P yang merupakan tiga partai terbesar di Tanah Air.
CRS sendiri merupakan tangan riset kebijakan publik dari Kongres. Sebagai cabang legislatif, CRS bekerja secara eksklusif dan langsung bertanggung jawab kepada anggota Kongres dan komite-komite yang mereka bentuk dalam konteks rahasia atau confidential. Selain memuji SBY, dokumen ini juga mengungkapkan adanya ketakutan AS bila Wiranto menjadi pemenang Pemilu 2004. Amerika menilai hubungan kedua negara akan rumit karena Kongres menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran HAM di Timor Timur.
Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Partai Golkar, saat dikonfirmasi terkait bocoran dokumen AS itu, tak mau menuding bahwa kekalahan Wiranto pada Pemilu 2004 lalu disebabkan oleh campur tangan Amerika. “Saya belum melihat adanya indikasi ke sana (campur tangan AS),” katanya saat dihubungi Jumat (3/12) kemarin.
http://www.dutamasyarakat.com/artike…a-wiranto.html
————
Makanya, kalau tahun 2014 UU Politik berhasil di revisi dengan mensyaratkan minimum thereshold diatas 5% … diperkirakan parpol Islam seperti PKB, PPP, dan PAN dan sangat mungkin PKS, akan terlempar dari sistem politik karena tak akan terwakili lagi di Parlemen/DPR serta di Kabinet/Pemerintahan. Bocoran Wikileaks [un menyebut kemenangan partai sekuler dalam pemilu yad

Indonesia Menjadi Negara Sekuler ???

AS:Indonesia Berhasil Menjadi Negara Sekuler dg Sedikit Sekali Pengaruh Politik Islam

February 12, 2011 – 10:26 am AS Membandingkan Kejatuhan Mubarak dengan Soeharto
Sabtu, 12 Februari 2011 | 12:07 WIB TEMPO Interaktif, New York – Laman The Wall Street Journal, Jumat, menyebut pemerintah Amerika Serikat memakai pergolakan di Indonesia pada pertengahan 1998 menjadi model transisi kekuasaan yang sukses di negara yang mayoritas penduduknya Muslim.
Mereka mengerahkan beberapa ahli kebijakan luar negeri untuk menganalisi apa yang membuat Indonesia tidak jatuh ke tangan para tokoh Islam –padahal mayoritas penduduknya Muslim–, namun tetap sekuler dengan dukungan dari militernya.
Seorang pejabat Gedung Putih yang tak disebutkan namanya, mengatakan revolusi di Indonesia dikenal berhasil membuka sistem politik dan ekonomi yang paling transparan di Asia Tenggara. Pertanyaan, bagaimana Indonesia berhasil menyeimbangkan peran Islam dan kelanjutan peran militer di pemerintahan?
Karen Brooks, ahli politik luar negeri yang membantu mengamati Indonesia pada pemerintahan Clinton dan Bush, mengatakan pemerintahan Indonesia berhasil berkembang menjadi negara sekuler dengan sedikit sekali pengaruh dari politik Islam. Hal ini ujar Brooks, adalah karena pemilu selanjutnya dilakukan setahun setelah penggulingan Soeharto, sehingga partai sekuler mempunyai waktu untuk berkembang.
Sementara selama 30 tahun menuju transformasi demokratis Indonesia, kata Brooks, partai Islam terlihat kesulitan mengumpulkan suara mayoritas. Ini berbeda dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang bisa berkembang pesat. Selain itu, ia juga satu-satunya partai yang telah menyiapkan kampanye untuk pemilu selanjutnya. Di sinilah kekhawatiran Amerika itu. Mereka khawatir pada pemilu berikutnya partai ini akan berkuasa.
Presiden Amerika Serikat sendiri, Barack Obama seperti dilansir VOA menyambut baik pengunduran diri Mubarak itu. Mubarak, kata Obama, telah menanggapi tuntutan rakyat Mesir yang haus akan perubahan. "Suara rakyat Mesir telah didengar," katanya. Mesir, kata dia, kini harus pindah ke kekuasaan sipil dan demokratis.
Meski begitu, Obama mengingatkan bahwa pengunduran diri Mubarak ini hanyalah awal transisi di negara itu. "Ke depan akan terbentang hari-hari yang sulit," kata Obama dalam pidatonya di Gedung Putih, Jumat (11/2).
http://www.tempointeraktif.com/hg/ti…313036,id.html

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME

Kamis, 08 Januari 2009

ZIONISME: SEBUAH NASIONALISME SEKULER YANG MENGKHIANATI YUDAISME

Zionisme dibawa ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria. Baik Herzl maupun rekan-rekannya adalah orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang sangat lemah, jika tidak ada sama sekali. Mereka melihat "Keyahudian" sebagai sebuah nama ras, bukan sebuah masyarakat beriman. Mereka mengusulkan agar orang-orang Yahudi menjadi sebuah ras terpisah dari bangsa Eropa, yang mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan bahwa penting artinya bagi mereka untuk membangun tanah air mereka sendiri. Mereka tidak mengandalkan pemikiran keagamaan ketika memutuskan tanah air manakah itu seharusnya. Theodor Herzl, sang pendiri Zionisme, suatu kali memikirkan Uganda, dan ini lalu dikenal sebagai "Uganda Plan." Sang Zionis kemudian memutuskan Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai "tanah air bersejarah bagi orang-orang Yahudi", dibandingkan segala kepentingan keagamaan apa pun yang dimilikinya untuk mereka.

Petani dan Tembok Ratapan di depannya, yang menggambarkan pemimpin Zionis Max Nordau, Theodor Herzl, dan Prof. Mandelstamm, melukiskan "Impian Zionis."
Sang Zionis melakukan upaya-upaya besar untuk mengajak orang-orang Yahudi lainnya menerima gagasan yang tak sesuai agama ini. Organisasi Zionis Dunia yang baru melakukan upaya propaganda besar di hampir semua negara yang berpenduduk Yahudi, dan mulai berpendapat bahwa Yahudi tidak dapat hidup dengan damai dengan bangsa-bangsa lainnya dan bahwa mereka adalah "ras" yang terpisah. Oleh karena itu, mereka harus bergerak dan menduduki Palestina. Sebagian besar orang Yahudi mengabaikan himbauan ini.
Menurut negarawan Israel Amnon Rubinstein: "Zionisme (dulu) adalah sebuah pengkhianatan atas tanah air mereka (Yahudi) dan sinagog para Rabbi".15 Oleh karena itu banyak orang-orang Yahudi yang mengkritik ideologi Zionisme. Rabbi Hirsch, salah satu pemimpin keagamaan terkemuka saat itu berkata, "Zionisme ingin menamai orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional…. yang merupakan sebuah penyimpangan."16
Pemikir Islam Prancis yang terkenal Roger Garaudy melukiskan hal ini dalam sebuah pembahasan:
Musuh terburuk keyakinan Yahudi yang jauh ke depan adalah logika para nasionalis, rasis, dan kolonialis dari Zionisme kebangsaan, yang dilahirkan dari nasionalisme, rasisme, dan kolonialisme abad ke-19 di Eropa. Logika ini, yang menginspirasi semua penjajahan Barat dan semua perang antara satu nasionalisme dengan nasionalisme lainnya, adalah sebuah logika yang membunuh diri sendiri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada keamanan di Timur Tengah kecuali jika Israel meninggalkan paham Zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim, yang adalah warisan bersama, bersifat keagamaan, dan persaudaraan dari tiga agama wahyu: Yudaisme, Nasrani, dan Islam.17
Dengan cara ini, Zionisme memasuki politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang menganut paham bahwa Yahudi seharusnya tidak hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Pertama-tama, ini adalah gagasan yang keliru yang menciptakan masalah parah bagi dan tekanan atas orang-orang Yahudi yang hidup dalam belenggu ini. Kemudian, bagi orang-orang Islam di Timur Tengah, paham ini membawa kebijakan Israel tentang pendudukan dan perebutan wilayah bersama-sama dengan kemiskinan, teror, pertumpahan darah, dan kematian.
Pendeknya, Zionisme sebenarnya adalah sebuah bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, bukan dari agama. Akan tetapi, seperti dalam bentuk nasionalisme lainnya, Zionisme juga berusaha menggunakan agama untuk tujuannya sendiri.
Kesalahan Penafsiran Taurat oleh Para Zionis
Taurat adalah sebuah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Musa. Allah berkata dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)…" (Al-Qur'an, 5:44). Al-Qur'an juga berkata bahwa Taurat kemudian akan dikotori oleh perkataan manusia di dalamnya. Inilah kenapa apa yang kita miliki saat ini adalah "Taurat yang menyimpang."
Akan tetapi, sebuah penelitian lebih dekat mengungkap adanya kebanyakan kebenaran agama yang terkandung dalam Kitab yang pernah diwahyukan ini, seperti keimanan kepada Allah, penghambaan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, cinta kepada Allah, keadilan, kasih sayang, cinta kasih, melawan kekejaman dan ketidakadilan, yang semuanya ditemukan di seluruh Taurat dan kitab lainnya dari Perjanjian Lama.
Terlepas dari ini, perang yang terjadi dalam sejarah dan pembunuhan yang terjadi karenanya juga disebutkan di dalam Taurat. Jika manusia ingin menemukan sebuah dasar, meskipun dengan memutarbalikkan kenyataan, untuk kekejaman, pembantaian, dan pembunuhan, mereka bisa menjadikan bab-bab dalam Taurat tersebut sebagai acuan. Zionisme memilih cara mutlak yang mengesahkan terorismenya, yang sebenarnya adalah sebuah terorisme fasis. Dan, ini sangat berhasil. Misalnya, Zionisme menggunakan bab-bab (dari Taurat) yang terkait dengan perang dan pembantaian untuk mengesahkan pembantaian orang-orang Palestina yang tak berdosa. Padahal, ini adalah sebuah penafsiran menyimpang yang disengaja. Zionisme menggunakan agama untuk mengesahkan fasismenya dan ideologi rasisnya.
Para Zionis juga mendasarkan pernyataan mereka pada penafsiran mereka tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan "orang pilihan" yang pernah dikaruniakan Allah kepada orang Yahudi suatu kali. Beberapa ayat Al-Qur'an berhubungan dengan persoalan ini:
Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat45. (Qur'an, 2:47)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Qur'an, 45:16)
Al-Qur'an menerangkan bagaimana pada suatu kali Allah memberkati orang-orang Yahudi, dan bagaimana pada kali lainnya Dia menjadikan mereka berkuasa atas bangsa-bangsa lain. Namun ayat-ayat ini tidaklah menyiratkan "orang pilihan" seperti apa yang dipahami orang-orang Yahudi radikal. Ayat-ayat tersebut menunjukkan kenyataan bahwa banyak nabi-nabi yang datang dari keturunan ini, dan bahwa orang-orang Yahudi memerintah di daerah yang luas pada saat itu. Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa dengan berkat kedudukan kekuasaan mereka, mereka "lebih diutamakan di atas semua manusia lain." Ketika mereka menolak Isa, ciri ini pun berakhir.
Al-Qur'an menyatakan bahwa orang yang terpilih tersebut adalah para nabi dan orang-orang beriman yang Allah tunjuki kepada kebenaran. Ayat-ayat ini menyebutkan bahwa para nabi itu telah dipilih, ditunjuki jalan yang benar, dan diberkati. Berikut ini adalah beberapa ayat yang terkait dengan persoalan ini:
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya90 di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Qur'an, 2: 130)
Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (Qur'an, 6:87-89)
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Qur'an, 19:58)
Namun orang-orang Yahudi radikal, yang mempercayai keterangan menyimpang, melihat "orang yang terpilih" sebagai ciri kebangsaan sehingga mereka menganggap setiap orang Yahudi terlahir unggul dan bahwa Bani Israil selamanya dianggap unggul dari semua manusia lainnya.
Penyimpangan kedua yang terbesar dari sudut pandang ini menampilkan anggapan keunggulan ini sebagai "suatu perintah untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain." Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam beberapa hal pada Yudaisme Talmud. Menurut pandangan ini, hal yang lumrah bagi orang-orang Yahudi untuk menipu orang-orang non-Yahudi, untuk merampas hak milik dan bangunan mereka, dan, ketika diperlukan bahkan membunuh mereka, termasuk wanita dan anak-anak.18 Kenyataan menunjukkan, semua ini adalah kejahatan yang melecehkan agama sejati, karena Allah memerintahkan kita untuk melestarikan keadilan, kejujuran, dan hak orang-orang tertindas, dan hidup dalam kedamaian dan cinta.
Lebih jauh lagi, pernyataan anti-non-Yahudi ini bertentangan dengan Taurat itu sendiri, seperti ayat-ayat yang mengutuk penindasan dan kekejaman. Akan tetapi, ideologi rasis Zionisme mengabaikan ayat-ayat seperti itu untuk menciptakan sistem kepercayaan berdasarkan amarah dan kebencian. Tanpa mempedulikan pengaruh ideologi Zionis, beberapa orang Yahudi yang benar-benar percaya pada Allah akan mengetahui bahwa agama mereka mengajarkan mereka untuk tunduk pada ayat-ayat lainnya ini yang memuji perdamaian, cinta, kasih, dan perilaku etis, seperti:
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. (Perjanjian Lama, Imamat, 19:15-17)
Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?'' (Perjanjian Lama, Mikha, 6:8)
Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu … (Perjanjian Lama, Keluaran, 20:13-17)
Menurut Al-Qur'an pun, perang hanyalah khusus sebagai sarana mempertahankan diri. Bahkan jika perang akan diumumkan dalam suatu masyarakat, kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi. Suatu perintah untuk membunuh wanita, anak-anak, dan orang-orang tua tidak dapat disampaikan oleh agama manapun, kecuali hanya oleh tipu-daya yang berkedok agama. Dalam Al-Qur'an, Allah tidak hanya mengutuk jenis kebencian seperti ini namun juga menyatakan bahwa semua manusia sama dalam pandangan-Nya dan bahwa kelebihan seseorang itu tidaklah didasarkan pada ras, keturunan, atau segala kelebihan keduniaan lainnya, melainkan pada ketakwaan - cinta bagi dan kedekatan kepada Allah.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qur'an, 49:13)
Terlepas dari kedok agamanya yang palsu, alasan sesungguhnya dari ketidakmanusiawian dan kekejaman Zionisme adalah hubungannya dengan mentalitas penjajahan Eropa di abad kesembilan belas. Penjajahan bukan semata sebuah sistem politik atau ekonomi; penjajahan juga sekaligus sebuah ideologi. Zionisme, yang percaya bahwa negara-negara industri Barat mempunyai hak untuk menjajah dan menduduki bangsa-bangsa terkebelakang di wilayah ini, melihat ini sebagai akibat alami dari sebuah proses "seleksi alam" internasional. Dengan kata lain, Zionisme adalah sebuah produk Darwinisme Sosial. Dalam kerangka ideologi ini, Inggris menjajah India, Afrika Selatan, dan Mesir. Prancis menjajah Indocina, Afrika Utara, dan Guyana. Karena terinspirasi oleh contoh-contoh ini, para Zionis memutuskan untuk menjajah Palestina bagi orang-orang Yahudi.
Kolonialisme Zionis menjadi jauh lebih buruk dibanding "rekan-rekannya" Inggris dan Prancis, karena paling tidak mereka (Inggris dan Prancis) mengizinkan daerah pendudukan mereka untuk hidup (setelah menyerah) dan bahkan memberi sumbangan kepada negara pendudukan dengan pendidikan, pemerintahan yang adil, dan prasarana. Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, para Zionis tidak mengakui hak-hak orang Palestina untuk hidup; mereka melakukan pembersihan etnis, dan tidak memberi apa pun kepada orang-orang yang mereka jajah. Anda mungkin bahkan berkata mereka tidak memberi satu batu bata pun bagi orang-orang Palestina.
Pertentangan Zionisme dengan Yahudi
Sifat lainnya dari Zionisme adalah kepercayaannya kepada tema-tema propaganda palsu, mungkin yang paling penting adalah semboyan "sebuah tanah tanpa manusia untuk seorang manusia tanpa tanah." Dengan kata lain, Palestina, "tanah tanpa manusia" harus diberikan kepada orang-orang Yahudi, "manusia tanpa tanah." Dalam 20 tahun pertama abad kedua puluh, Organisasi Zionis Dunia menggunakan semboyan ini dengan sepenuh hati untuk meyakinkan pemerintahan Eropa, khususnya Inggris dan rakyatnya bahwa Palestina harus diserahkan kepada orang-orang Yahudi. Pada tahun 1917, akibat kampanye persuasifnya, Inggris mengumumkan Deklarasi Balfour bahwa "Pemerintahan Yang Mulia memandang pentingnya pendirian di Palestina sebuah tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi… di Palestina."
Kenyataan menunjukkan, semboyan "tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah" ini tidaklah benar. Ketika gerakan Zionis dimulai, orang-orang Yahudi tidaklah "tanpa tanah" dan Palestina pun bukannya tanpa manusia…
Orang-orang Yahudi tidaklah tanpa tanah karena sebagian besar mereka hidup di berbagai negara dengan damai dan aman. Khususnya di negara-negara industri Barat, persekutuan ibadat Yahudi tidak punya keluhan apa pun tentang kehidupan mereka. Bagi sebagian besar mereka, gagasan meninggalkan negara mereka untuk pindah ke Palestina tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Kenyataan ini akan muncul belakangan ketika ajakan Zionis untuk “Pindah ke Palestina” secara luas diabaikan. Dalam tahun-tahun berikutnya, orang-orang Yahudi anti-Zionis yang kita bicarakan ini secara aktif menolak gerakan Zionis melalui ikatan-ikatan yang mereka dirikan sendiri.
Menerima dukungan resmi dengan Deklarasi Balfour, para Zionis merasakan dirinya berada dalam keadaan yang sulit ketika banyak saudara-saudara Yahudinya menolak pindah. Dalam hal ini, pernyataan Chaim Weizman sangat menohok:
Deklarasi Balfour pada 1917 diputuskan di awang-awang… setiap hari dan setiap jam dalam 10 tahun terakhir ini, ketika membuka surat kabar, saya berpikir: kapan hembusan angin surga lainnya datang? Saya terguncang karena takut Pemerintah Inggris akan memanggil saya dan bertanya: “Beritahu kami, apakah Organisasi Zionis ini? Di manakah mereka, para Zionismu?”... Orang-orang Yahudi, mereka tahu, menentang kami; kami berdiri sendiri di sebuah pulau kecil, sebuah kelompok Yahudi yang amat kecil dengan masa lalu yang asing.19

Surat yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Inggris Sir Arthur Balfour pada Lord Rothschild yang dikenal sebagai “Deklarasi Balfour.” Kanan: gambar surat aslinya; Atas: Sir Balfour.
Oleh karena itu para Zionis mulai terlibat dalam “kegiatan-kegiatan khusus” untuk “mendorong” pindahnya orang Yahudi ke Palestina, bahkan memaksa jika diperlukan, seperti mengganggu orang-orang Yahudi di negara-negara asalnya dan bekerja sama dengan para anti-Semit untuk meyakinkan bahwa pemerintah akan mengusir orang-orang Yahudi. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence,), Vural Yayincilik, Istambul, 2002). Dengan demikian, Zionisme mengembangkannya sebagai gerakan yang mengganggu dan menteror rakyatnya sendiri.
Sekitar 100.000 orang Yahudi pindah ke Palestina antara tahun 1920-1929.20 Jika kita merenungkan bahwa ada 750.000 orang Palestina pada saat itu, maka 100.000 pasti bukanlah jumlah yang kecil. Organisasi Zionis memegang kendali penuh atas perpindahan ini. Orang-orang Yahudi yang menginjakkan kaki di Palestina ditemui oleh kelompok Zionis, yang menentukan di mana mereka akan tinggal dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan. Perpindahan ini didorong oleh pemimpin-pemimpin Zionis dengan berbagai imbalan. Akibat upaya yang giat di seluruh Palestina, Eropa, dan Rusia, penduduk Yahudi di Palestina mencatat pertumbuhan yang pesat dalam hal jumlah dan tempat tinggalnya. Bersamaan dengan adanya peningkatan kekuasaan Partai Nazi, orang-orang Yahudi di Jerman menghadapi tekanan yang semakin meningkat, suatu perkembangan yang semakin mendorong perpindahan mereka ke Palestina. Kenyataan Zionis mendukung penindasan Yahudi ini adalah sebuah fakta, dan masih menjadi salah satu rahasia sejarah yang paling terpendam. (Lihat Harun Yahya, Soykirim Vahseti (The Holocaust Violence), Vural Yayincilik, Istanbul, 2002)
Pertentangan Zionisme dengan Masyarakat Arab
Para Zionis tidak diragukan lagi telah melakukan kekejaman terburuk kepada orang-orang yang memiliki “sebuah tanah tanpa manusia”: orang-orang Palestina. Semenjak hari ketika Zionisme memasuki Palestina, para pengikutnya telah berusaha untuk menghancurkan orang-orang Palestina. Untuk memberi ruang bagi para imigran Yahudi, baik dipengaruhi oleh gagasan Zionis maupun takut pada anti-Semitisme, orang-orang Palestina terus ditekan, diasingkan, dan diusir dari rumah-rumah dan tanah mereka. Gerakan untuk menduduki dan mengasingkan ini, yang didorong oleh didirikannya Israel pada tahun 1948, menghancurkan kehidupan ratusan ribu orang-orang Palestina. Hingga hari ini, sekitar 3,5 juta orang Palestina masih berjuang untuk kehidupannya sebagai pengungsi dalam keadaan yang paling sulit.
Semenjak 1920an, perpindahan orang Yahudi yang diorganisir oleh Zionis telah dengan mantap mengubah keadaan demografi Palestina dan telah menjadi sebab terpenting berkepanjangannya pertentangan. Statistik yang terkait dengan peningkatan penduduk Yahudi ini secara langsung membuktikan kenyataan ini. Angka-angka ini adalah petunjuk penting tentang bagaimana sebuah kekuatan penjajahan dari luar negeri, kekuatan tanpa hak hukum atas tanah tersebut datang untuk merampok hak-hak penduduk asli.
Menurut catatan-catatan resmi, jumlah imigran Yahudi ke Palestina meningkat dari 100.000 pada tahun 1920an menjadi 232.000 pada tahun 1930an.21 Hingga 1939, penduduk Palestina yang jumlahnya 1,5 juta jiwa telah termasuk 445.000 orang Yahudi. Jumlah mereka, yang hanya 10% saja dari jumlah penduduk 20 tahun sebelumnya, sekarang menjadi 30% dari seluruh penduduk. Pemukiman Yahudi juga berkembang pesat, dan per 1939 orang-orang Yahudi memiliki dua kali dari jumlah tanah yang mereka miliki pada tahun 1920an.
TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1920 (September-Oktober)
5.514
1921
9.149
1922
7.844
1923
7.421
1924
12.856
1925
33.801
1926
13.081
1927
2.713
1928
2.178
1929
5.249
Pengumuman resmi Deklarasi Balfour menandai awal perpindahan Yahudi besar-besaran dan cepat ke Palestina. Tabel di kiri memperlihatkan jumlah orang Yahudi yang pindah ke Palestina antara 1920 dan 1929. Selama masa ini, sekitar 100.000 orang Yahudi memasuki Palestina.
British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279
Per 1947, ada 630.000 orang Yahudi di Palestina dan 1,3 juta orang Palestina. Antara 29 November 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas oleh PBB, dengan 15 Mei 1948, organisasi teroris Zionis mencaplok tiga perempat Palestina. Selama masa itu, jumlah orang-orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil, dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 akibat serangan dan pembantaian. Beberapa di antaranya terbunuh, beberapa terusir.22
Dalam menjelaskan kebijakan pendudukan yang diterapkan Isrel pada tahun 1948, revisionis Israel yang terkenal, Ilan Pappe membuka sebuah rahasia, rencana tak tertulis untuk mengusir orang-orang Arab dari Palestina. Menurut rencana ini, setiap desa atau pemukiman Arab yang tidak menyerah kepada kekuatan Yahudi, yang tidak akan mengibarkan bendera putih, akan dibumihanguskan, dihancurkan, dan orang-orangnya diusir. Setelah keputusan ini dilaksanakan, hanya empat desa yang mengibarkan bendera putih; kota-kota dan desa-desa lainnya pasti akan menjadi sasaran pengusiran.23
Dengan cara ini, 400 desa Palestina terhapus dari peta selama 1949-1949. Hak milik yang ditinggalkan orang-orang Palestina dikuasai oleh orang-orang Yahudi, atas dasar Hukum Hak Milik Tak Ditempati. Hingga tahun 1947, kepemilikan tanah orang-orang Yahudi di Palestina adalah sekitar 6%. Pada saat negara Israel resmi didirikan, kepemilikan itu telah mencapai 90% dari seluruh tanah.24

Kelompok imigran ilegal yang diorganisir oleh pemimpin Zionis berhasil mencapai Palestina meski
menghadapi hambatan serius.
Setiap kedatangan orang Yahudi yang baru berarti kekejaman, tekanan, dan kekerasan baru terhadap orang-orang Palestina. Untuk memberi tempat tinggal bagi pendatang baru, organisasi Zionis menggunakan tekanan dan kekuatan untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya, yang telah mereka tempati selama berabad-abad, dan pindah ke padang pasir. Joseph Weitz, kepala komite transfer pemerintah Israel pada tahun 1948 menuliskan dalam buku hariannya pada 20 Desember 1940:
Pasti telah jelas bahwa tidak ada ruang untuk dua rakyat dalam negara ini. Tidak ada perkembangan yang akan membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita, untuk menjadi rakyat merdeka dalam negara kecil ini. Setelah orang-orang Arab dipindahkan, negara ini akan terbuka luas bagi kita; dengan masih adanya orang Arab yang tinggal, negara ini akan tetap sempit dan terbatas. Satu-satunya jalan adalah memindahkan orang-orang Arab dari sini ke negara-negara tetangga. Semua mereka. Tidak ada satu desa pun, atau satu suku pun yang harus tertinggal.25
TAHUN
JUMLAH ORANG YAHUDI YANG PINDAH
1930
4.944
1931
4.075
1932
9.553
1933
30.327
1934
42.359
1935
61.854
1936
29.727
1937
10.536
1938
12.868
1939
16.405
Gelombang perpindahan orang-orang Yahudi tetap tak surut selama Palestina ditangani Inggris. Akibat upaya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Zionis, sebanyak 232.000 orang Yahudi bermukim di Palestina antara 1930-1939.

British British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, Palestine Royal Commision Report, Cmd. 5479, 1937, hlm. 279
Heilburn, ketua komite pemilihan kembali Jenderal Shlomo Lahat, walikota Tel Aviv, menyatakan pandangan Zionis tentang orang-orang Palestina dalam kata-kata berikut: "Kita harus membunuh semua orang-orang Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak."26 Banjir kedatangan imigran yang disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia II membuat orang-orang Palestina sadar akan apa yang terjadi, sehingga mulai menolak tindakan-tindakan yang tidak adil. Namun, setiap gerakan penolakan dihentikan dengan paksa oleh kekuatan Inggris. Orang-orang Palestina merasakan dirinya berada di bawah tekanan organisasi teroris Zionis di satu sisi, dan tentara-tentara Inggris di sisi lain. Dengan kata lain, mereka menjadi sasaran kepungan dua musuh.

Gambar di kiri menunjukkan orang-orang Yahudi yang pindah ke Palestina pada 1930. Gambar di atas memperlihatkan Yahudi yang tiba pada tahun 1947. Sebelum orang-orang Palestina mengerti apa arti perpindahan ini untuk masa depan mereka, perbandingan penduduk di daerah ini bergeser untuk keuntungan Yahudi.


1) Negara tempat perpindahan di mulai
2) Jumlah Imigran Yahudi
3) Akhir perpindahan
Program perpindahan yang diorganisir oleh para pemimpin Zionis diejawantahkan dengan kecepatan mengejutkan, dimulai pada awal 1900an. Orang-orang Yahudi yang pindah dari Afrika Utara, Uni Soviet, dan berbagai negara Timur Tengah menggeser perbandingan penduduk di Palestina untuk keuntungan orang-orang Yahudi.
Selama kekuasaan Inggris, lebih dari 1500 orang Palestina yang berjuang untuk kemerdekaannya terbunuh dalam pertempuran yang dilakukan oleh tentara-tentara Inggris. Di samping itu, ada pula beberapa orang Palestina yang ditahan oleh Inggris karena menentang pendudukan Yahudi. Tekanan pemerintah Inggris menyebabkan kekerasan serius terhadap mereka. Namun, terorisme Zionis tak terbandingkan kekejamannya. Kekejaman Zionis, yang pecah begitu berakhirnya Kekuasaan Inggris, meliputi pembakaran desa-desa, penembakan wanita, anak-anak, dan orang tua seolah sebuah hukuman mati; penyiksaan korban-korban tak berdosa,; dan pemerkosaan wanita-wanita dewasa dan remaja.
Sekitar 850.000 orang Palestina yang tidak tahan akan kekejaman dan penindasan ini meninggalkan tanah dan rumah mereka dan tinggal di Tepi Barat, Jalur Gaza, serta di sepanjang perbatasan Libanon dan Yordania. Sekitar satu juta orang Palestina masih tinggal di kamp-kamp pengungsian ini, sementara 3,5 juta lainnya tinggal sebagai pengungsi-pengungsi jauh dari tanah air mereka.
Tanah Palestina Dibagi


1) Wilayah Inggris
2) Wilayah Arab
3) Wilayah Yahudi
4) Wilayah Internasional
Ketika Palestina berada di bawah kendali Inggris setelah Perang Dunia I, gelombang besar perpindahan Yahudi ke daerah ini dimulai. Perpindahan ini lambat laun mulai meningkat pesat. Selama masa ini, beberapa badan didirikan untuk menentukan bagaimana orang Yahudi dan Palestina berbagi tanah. Badan yang terkenal adalah the Peel Commission, yang dikepalai oleh bekas Menteri Luar Negeri Inggris untuk India Lord Earl Peel, dan Komisi Morrison-Grady, yang dibentuk melalui kemitraan Amerika-Inggris. The Peel Commission mengusulkan agar pengawasan Inggris ditingkatkan dan daerah ini dibagi antar kedua kelompok, hanya Yerusalem dan Haifa yang tetap di bawah kendali Inggris dan akan terbuka untuk pengamat internasional. Morrison-Grady Plan mengusulkan agar Palestina dibagi atas empat daerah kantong terpisah. Namun, anggota badan ini tidak memperhitungkan bahwa tanah yang sedang mereka bagi ini dimiliki oleh orang-orang Palestina selama berabad-abad, dan tak seorang pun punya hak untuk memaksa mereka membaginya bertentangan dengan kehendak mereka.


Polisi Inggris ikut campur dengan paksa ketika orang-orang Palestina memprotes meningkat pesatnya perpindahan Yahudi. Akibat bentrokan di Jaffa pada 1933, sebanyak 30 orang Palestina tewas dan lebih dari 200 orang terluka.
Orang-orang Palestina yang hidup di kamp-kamp pengungsian hari ini menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar sekalipun. Mereka hanya bisa menggunakan air dan listrik jika orang Israel mengizinkannya, dan berjalan bermil-mil untuk bekerja demi upah yang amat rendah. Bagi mereka yang pergi bekerja atau mengunjungi kerabat yang tinggal di dekat kamp pengungsian, perjalanan itu seharusnya tidak lebih dari 15 menit saja. Akan tetapi, kejadiannya sering berubah menjadi mimpi buruk karena pemeriksaan identitas di tempat-tempat pemeriksaan yang sering dilakukan, di mana para tentara yang bertugas melakukan kepada mereka pelecehan, penghinaan, dan perendahan. Mereka tidak dapat berpindah dari tempat A ke tempat B tanpa passport. Dan karena tentara-tentara Israel sering menutup jalan untuk alasan “keamanan,” orang-orang Palestina sering tidak dapat pergi bekerja, pergi ke tempat yang ingin mereka tuju, atau bahkan untuk menuju rumah sakit ketika mereka jatuh sakit. Bahkan, orang-orang yang hidup di kamp-kamp pengungsian tiap hari hidup dalam rasa takut akan dibom, dibunuh, dilukai, dan ditahan, karena pemukiman orang-orang Yahudi fanatik di sekitar kamp menjadi ancaman sesungguhnya mengingat pelecehan dan serangan yang dilancarkan oleh penduduk Yahudi fanatiknya.
Tentu, diusir dari rumah dan dipaksa meninggalkan tanah asal seseorang mengakibatkan banyak kesulitan. Namun, inilah takdir Allah. Sepanjang sejarah, masyarakat Muslim telah terusir dari rumah mereka dan menghadapi berbagai jenis tekanan, penyiksaan, dan ancaman oleh orang-orang yang tak beriman. Para pemimpin yang kejam atau orang-orang yang menggunakan kekuasaan sering mengusir orang-orang yang tak berdosa dari tanah mereka hanya karena keturunan atau keyakinan mereka. Apa yang diderita oleh orang-orang Islam di banyak negara, juga orang-orang Palestina, telah diwahyukan di dalam Al-Qur'an. Namun Allah membantu semua orang yang tetap sabar, menunjukkan akhlak terpuji, dan menolak menakut-nakuti orang laii meskipun mengalami kekerasan. Seperti yang Allah nyatakan dalam Al-Qur'an:
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain259. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (Qur'an, 3:195)
Dengan demikian, akan datang suatu hari ketika semua orang-orang Palestina akan hidup dalam kedamaian, keamanan, dan persaudaraan. Tapi ini hanya dimungkinkan dengan menyebarluaskan akhlak Al-Qur'an antar manusia, karena akhlak seperti itu bersifat memaafkan dan toleran; mempertahankan kedamaian; menekankan pada cinta kasih; rasa hormat, dan kasih sayang; dan pengikutnya saling berlomba untuk beramal saleh. Ketika akhlak yang baik mengemuka, penindasan dan gangguan tidak dapat hidup. Dan lebih jauh lagi, ketika akhlak ini ditunjukkan dengan sepenuh hati, persaudaraan Muslim akan meningkat dan mereka akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebuah perjuangan intelektual melawan kekejaman. Oleh karena itu, menerapkan sistem tata prilaku Qurani akan membawa kita menuju akhir dari kekejaman tidak hanya di Palestina, melainkan juga di seluruh dunia. Kewajiban umat Islam adalah menyebarluaskan tata prilaku tersebut.
Imigran Yahudi yang diajarkan dengan semboyan “Setiap orang harus bekerja dengan satu tangan, dan memegang senjata di tangan lainnya” segera mengambil bagian dalam gerakan Zionis. Sementara beberapa orang mengorganisir demonstrasi dengan spanduk bertuliskan “Yerusalem adalah Milik Kami,” lainnya mengebom desa-desa Palestina.
Dalam bab-bab berikut, kita akan membahas lebih dekat rasa sakit dan kesulitan yang dialami selama bertahun-tahun oleh para pengungsi Palestina. Namun sebelum kita ke sana, kita akan melihat teror Zionis dan teknik yang digunakannya untuk mengusir orang-orang Palestina dari rumah-rumah mereka.
Akibat kepungan selama 3 tahun oleh kekuatan Israel, kamp pengungsian Bourj al-Barajneh di dekat Beirut hancur total. Foto ini menggambarkan keadaan kamp pada tahun 1988.

Orang-orang Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Libanon dan Yordania masih berjuang mengatasi kesulitan besar selama bertahun-tahun. Kelaparan, wabah penyakit, cuaca buruk, dan berlanjutnya rasa takut akan serangan baru Israel menjadi kenyataan hidup mereka. Pemandangan barak yang didirikan oleh PBB menunjukkan parahnya kemiskinan mereka.
15- Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19
16- Washington Post, Oktober 3, 1978
17- Roger Garaudy, "Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy", Samizdat, Juni 1996
18- For Talmud's anti-gentile remarks, see Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion:, The Weight of Three Thousand Years (AMEU: 1994)
19- United Nations Report, "The Origins and Evolution of the Palestine Problem 1917-1988," New York, 1990, tanda penegasan ditambahkan.
20- British Government, The Political History of Palestine under the British Administration, (Memorandum to the United Nations Special Committee on Palestine) Jerusalem, 1947, hlm. 279.
21- Royal Institute of International Affairs, Great Britain and Palestine, (London, Chatham House: 1946), hlm. 61.
22- Ralph Schoenman, The Hidden History of Zionism, (Veritass Press: 1988), tanda penegasan ditambahkan
23- Baudouin Loos, "An Interview of Ilan Pappe," November 29 1999, http://msanews.mynet.net/Scholars/Loos/pappe.html.
24- Weite Diary, A 24617, entry dated 20 December 1940, Central Zionist Archives, Jerusalem, hlm. 1090-1091.

25. Uri Davis, Israel: An Apartheid State (London and New Jersey, Zed Books: 1987), Introduction, tanda penegasan ditambahkan.
26. Schoenman, The Hidden History of Zionism, tanda penegasan ditambahkan.

Saturday, 5 February 2011

Pasang atau perbarui Google Chrome - Mengunduh dan memasang Google Chrome

Pasang atau perbarui Google Chrome - Mengunduh dan memasang Google Chrome

AKSIOLOGI: Filsafat Nilai (Value)


AKSIOLOGI: Filsafat Nilai (Value)

oleh Tjandra Mandela pada 08 Januari 2011 jam 17:52
 “Kehidupan ini memaksa kita untuk mengadakan pilihan, mengukur benda dari segi lebih baik atau lebih jelek dan untuk memberi formulasi tentang ukuran nilai”

“Setiap individu mempunyai perasaan tentang nilai dan tak pernah terdapat suatu masyarakat tanpa sistem nilai” 

Oleh Nur Haris Ali
LATAR BELAKANG: SEBUAH PENGANTAR

Membahas masalah nilai atau teori tentang nilai berarti kita membahas tentang aksiologi karena aksiologi adalah bagian filsafat yang mempersoalkan nilai dan penilaian, terutama berhubungan dengan masalah atau teori umum formal mengenai nilai. Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios (nilai) dan logos (teori) sehingga aksiologi adalah salah satu bagian filsafat yang mempersoalkan teori tentang nilai. 
Sebagai bagian dari filsafat, aksiologi atau filsafat nilai dan penilaian, secara formal baru muncul pada pertengahan Abad ke-19. Meskipun sejak zaman Yunani Kuno masalah-masalah aksiologi telah dibicarakan orang, namun pembicaraannya terlalu khusus dalam hubungannya dengan masalah tertentu, belum berbicara mengenai aksiologi pada prinsipnya. 

Semenjak zaman Yunani Purba, para filosof telah menulis segi, teori tentang problema nilai. Sekarang, penyelidikan tentang apa yang dinilai manusia, dan apa yang harus dinilai, telah menimbulkan perhatian baru. 

Dalam membahas aksiologi nilai dan penilaian, terdapat banyak pendapat menyangkut isinya. “Apakah nilai dan penilaian?” pertanyaan ini tentu saja merupakan masalah utama pada bagian filsafat ini.

Berangkat dari pertanyaan masalah di atas, dalam makalah ini, penulis akan mencoba untuk menjawab rumusan masalah tersebut dengan mengkhususkan pembahasan pada nilai dan penilaian yang berdasarkan pada dua hal, yaitu ada (being) dan nilai (value) itu sendiri. 

KAJIAN PUSTAKA 

A. Definisi Nilai

Nilai, dalam bukunya Dr. Fuad Farid Isma’il & Dr. Abdul Hamid Mutawalli yang berjudulCepat Menguasai Ilmu Filsafat, diartikan sebagai standar atau ukuran (norma) yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu. Ucapan kita bahwa baju ini murah atau mahal harganya, misalnya, berarti bahwa nilai ekonomisnya adalah kecil atau besar. Ucapan kita bahwa pekerjaan ini baik atau buruk, maka sesungguhnya penilain kita ada(being) dalam perspektif penilaian kita terhadap makna kebaikan dan keburukan, atau sesuai dengan norma kebaikan dan keburukan dalam pandangan kita.

Value atau nilai, dalam Kamus Psikologi karangan Kartono Kartini & Dali Guno terbitan didefinisikan sebagai hal yang dianggap penting, bernilai atau baik. Semacam keyakinan mengenai bagaimana seseorang seharusnya atau tidak seharusnya dalam bertindak (misalnya jujur, ikhlas), atau cita-cita yang ingin dicapai oleh seseorang (misalnya kebahagiaan, kebebasan) 

Namun, bagi sebagian orang, nilai diartikan dengan menggunakan berbagai reduksi. Dengan kata lain, memperlihatkan adanya tiga sektor besar realitas, yaitu benda, esensi, dan keadaan psikologis. Nilai yang diberikan orang pada sesuatu akan dikaitkan antara lain dengan apa yang diinginkannya, apa yang menyenangkannya, dan apa yang membuatnya senang atau nikmat.

Nilai ini kemudian menjadi pembahasan tersendiri dalam diskusi-diskusi filsafat dan pemikiran. Terbukti dengan munculnya teori nilai (aksiologi) yang penulis temukan di beberapa literatur Filsafat seperti di bukunya Ahmad Tafsir berjudul Filsafat Umum terbitan Remaja Rosdakarya Bandung 1990. Ahmad Tafsir, lebih lanjut, meletakkan pembahasan nilai ini setelah membahas teori pengetahuan dan teori hakikat yang merupakan sistematika dalam pembahasan Filsafat. 

Teori-teori lainnya, seperti yang dikemukakan oleh teori Nicolai Hartmann, bahwa nilai adalah esensi dan ide platonik. Nilai selalu berhubungan dengan benda yang menjadi pendukungnya, misalnya indah dengan kain dan baik dengan perilaku. Artinya, bahwa nilai itu tidak nyata.

Dalam buku Living issue in Philosophy yang dialihbahasakan oleh Prof. Dr. H.M. Rasjidi, disebutkan bahwa penilaian seseorang itu dipengaruhi oleh fakta-fakta. Artinya, jika fakta-fakta atau keadaan berubah, maka penilaian kita biasanya juga akan berubah. Ini berarti juga bahwa pertimbangan nilai seseorang bergantung kepada fakta. 

Pendapat demikian ini rupanya juga diamini oleh Ngalim Purwanto dalam bukunyaPsikologi Pendidikan yang mengatakan bahwa, nilai-nilai yang ada pada seseorang bisa dipengaruhi oleh adanya adat istiadat, etika, kepercayaan, dan agama yang dianutnya. Semua itu mempengaruhi sikap, pendapat, dan pandangan individu yang selanjutnya tercermin dalam cara-cara bagaimana orang tersebut bertindak dan bertingkah laku dalam memberikan penilaian. 

B. Pembagian Teori Nilai

Dalam pembagiannya, nilai serta penilaian memiliki dua bidang paling populer yang bersangkutan dengan tingkah laku dan keadaan atau tampilan fisik. Dua bidang paling populer ini, menurut Langeveld sebagaimana dikutip Wiramihardja dalam bukunya Pengantar Filsafat, masuk ke dalam tiga hal utama pada sistematika filsafat . Dua bidang paling popular yang dimaksud adalah :

1) Etika 

Yaitu mempersoalkan penilaian atas perbuatan manusia dari sudut baik dan jahat. Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai ‘betul’ (right) dan ‘salah’ (wrong) dalam arti ‘susila’ (moral) dan ‘tidak susila’ (immoral). Sebagai pokok bahasan yang khusus, etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bajik. Kualitas-kualitas dan atribut-atribut ini dinamakan ‘kebajikan-kebajikan’ (virtues), yang dilawankan dengan ‘kejahatan-kejahatan’ (vices), yang berarti sifat-sifat yang menunjukkan bahwa orang yang mempunyainya dikatakan sebagai orang yang tidak susila. 

Di lain pihak, etika acapkali dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang menetapkan ukuran-ukuran atau kaidah-kaidah yang mendasari pemberian tanggapan atau penilaian terhadap perbuatan. Ilmu pengetahuan ini membicarakan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi, dan yang memungkinkan orang untuk menetapkan apa yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi. 

2) Estetika

Yaitu mempersoalkan penilaian atas sesuatu dari sudut indah dan jelek. Secara umum, estetika disebut sebagai kajian filsafati mengenai apa yang membuat rasa senang. Tokoh yang paling terkenal dalam bidang ini adalah Alexander Baumgarten (1714-1762).

Nilai baik sebanding dengan nilai indah, tetapi kata ‘indah’ sendiri lebih sering dikenakan pada seni, sedangkan kata ‘baik’ lebih sering dikenakan pada perbuatan. Di dalam kehidupan sehari-hari, ‘indah’ lebih berpengaruh ketimbang ‘baik’. Orang lebih tertarik pada rupa ketimbang pada tingkah laku. Orang yang tingkah lakunya baik (etika), tetapi kurang indah (estetika), akan dipilih belakangan; yang dipilih lebih dulu adalah orang yang indah, sekalipun kurang baik.
Secara umum, bernilai artinya berharga. Pertanyaan selanjutnya yang muncul kemudian adalah, dimanakah sesungguhnya letak dari nilai itu? pada barangnya kah? atau pada orang yang menilai?. Pada umumnya, orang berpendapat bahwa, nilai terletak pada barangnya. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nilai itu bersifat abstrak. Yang dapat ditangkap oleh indera kita ialah barang yang bernilai, sehingga nilai itu sendiri tidak dapat ditangkap.

Banyak ”keributan” yang disebabkan oleh perbedaan penilaian. Para ahli berusaha membuat ukuran untuk menilai—yang disebut dengan sistem nilai—yang diharapkan dapat berlaku umum dan mantap. Akan tetapi, usaha itu ternyata gagal karena para ahli sendiri ternyata tidak dapat bersepakat tentang sistem nilai tersebut. Sehingga, nilai buruk dan baik, indah dan tidak indah, memang ada, tetapi ukuran itu tidak satu macam. Dengan demikian, berarti sama saja dengan tidak ada ukuran sama sekali. Sama dalam arti akibatnya, yaitu tetap saja akan terjadi perdebatan, bahkan “keributan” tentang nilai.

Ukuran indah dan tidak indah sama dengan baik dan tidak baik yaitu membingungkan, bermacam-macam, subyektif, dan sering diperdebatkan. Meskipun demikian, etsetika berusaha menemukan ukurannya yang dapat berlaku umum. Akan tetapi, sama dengan etika, usaha itu tidak berhasil. Memang ditemukan ukuran tentang indah-tidak indah, tetapi ukuran yang ditemukan begitu banyak, pakarnya sendiri pun tidak mampu bersepakat. 

Teori lama tentang keindahan bersifat metafisis, teori modern bersifat psikologis. Menurut Plato, keindahan adalah realitas yang sungguh-sungguh, suatu hakikat yang abadi, tidak berubah. Sekalipun ia menyatakan bahwa harmoni, proporsi, dan simetri adalah yang membentuk keindahan, ia tetap berpendapat bahwa ada unsur metafisik dalam keindahan. Baginya keindahan suatu obyek bukan berasal dari obyek itu akan tetapi keindahan itulah yang menyertai obyek tersebut. Pandangan ini benar-benar metafisis. Bagi Plotinus, keindahan adalah pancaran akal Ilahi: bila Ilahi memancarkan diri-Nya atau memancarkan sinar-Nya, maka itulah keindahan. 


C. Pendekatan-pendekatan Dalam Aksiologi

Pertanyaan mengenai hakekat nilai dapat dijawab dengan tiga macam pendekatan, yaitu ketika orang tersebut dapat mengatakan bahwa: 
  1. Nilai sepenuhnya berhakekat subjektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman mereka. Yang demikian ini dapat dinamakan ‘subjektivitas’. 
  2.  Atau dapat pula orang mengatakan bahwa nilai-nilai ini merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi ontologi , namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. Pendirian ini dinamakan ‘objektivisme logis’. 
  3. Akhirnya orang dapat mengatakan bahwa nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan. Yang demikian ini disebut ‘objektivisme metafisik’. 

PANDANGAN DAN ANALISIS PENULIS

Sebelum penulis memberikan pandangan terkait permasalahan nilai. Penulis akan sedikit menganalisis beberapa hal terkait permasalahan nilai ini. Nilai, sebenarnya merupakan sebuah sifat dari suatu barang yang hanya mengandung dan berhubungan dengan subjek yang tahu akan nilai itu sendiri. Tanggapan nilai—misalnya kebaikan—sebenarnya juga bukanlah suatu ‘makhluk’ yang hidup tersendiri dalam salah satu ‘dunia’, akan tetapi Ia pun mempunyai suatu cara tersendiri untuk berada (being), terlepas dari persoalan apakah ada yang menyatakan adanya atau tidak. 

Setiap individu mempunyai perasaan tentang nilai dan tak pernah terdapat suatu masyakarat tanpa sistem nilai. Melakukan pertimbangan nilai adalah kebiasaan sehari-hari bagi kebanyakan orang. Bagi kebanyakan orang penilaian terjadi secara terus menerus. 

Sebenarnya, ‘nilai’ merupakan pengertian yang luas lingkupnya dibandingkan dengan pengertian ‘yang baik’, dan pengertian tersebut menyangkut perangkat hal yang disetujui dan yang tidak disetujui. Sehingga, seperti yang penulis sebutkan di atas tadi, maka terus terjadi perdebatan yang tak kunjung selesai ketika masalah ukuran nilai ini disetujui atau tidak disetujui.

Dalam bahasa kita sehari-hari, sering kita mengatakan bahwa “barang ini mempunyai nilai,” sebenarnya, bahasa yang kita gunakan ini adalah sebuah pemberian penghargaan atas obyek yang menurut subjektif kita, patut untuk diberi nilai. Maka dari sini sebenarnya nilai adalah sebuah pemberian karena adanya penghargaan yang diberikan. Dengan demikian, maka penulis berpandangan bahwa sebenarnya nilai itu kembali pada individu yang memberi nilai itu sendiri. Namun, biasanya adanya nilai ini juga membutuhkan kesepakatan bersama. Tidak semua orang akan memberi nilai yang serupa, tetapi nilai itu biasanya juga dipengaruhi oleh adanya norma-norma, etika, dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat. 

Adapun hubunganya dengan filsafat ialah, filsafat merupakan seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita, aspirasi-aspirasi dan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan norma-norma, aturan-aturan dan prinsip etis. 
Menurut Sidney Hook, filsafat juga pencari kebenaran, suatu persoalan nilai-nilai dan pertimbangan-pertimbangan nilai untuk melaksanakan hubunganhubungan kemanusiaan secara benar dan juga berbagai pengetahuan tentang apa yang buruk atau baik untuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupannya. 


KESIMPULAN

 Berdasarkan pemaparan yang telah penulis jelaskan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa nilai tidak lain tidak bukan adalah standar atau ukuran yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu. Ilmu yang mempelajari nilai ini disebut dengan aksiologi, yang sebenarnya merupakan urutan ketiga dari sistematika filsafat. Dua hal yang sering dipermasalahkan dalam nilai adalah masalah etika dan estetika.

Terkait dimana sebenarnya letak dari sebuah nilai itu, maka sebenarnya nilai itu hanyalah pemberian dan hal ini lagi-lagi kembali kepada individu masing-masing ketika ia memberikan sebuah penilaian.


DAFTAR REFERENSI

Ismail, Fuad Farid & Abdul Hamid Mutawalli. 2003. Cepat Menguasai Ilmu Filsafat. Yogyakarta: IRCiSoD

Kartini, Kartono & Dali Guno. 2003. Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya

Kattsoff, Luis O. 2004. Elements of Philosophy (Soejono Soemargono-penerj). Yogyakarta: Tiara Wacana

Langeveld, M.J. (tanpa tahun). Op Weg Naar Wijsgerig Denken (G.J Claessen-penerj). Jakarta: Pustaka Sarjana

Purwanto, Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Salam, Burhanuddin. 1997. Logika Materi; Filsafat Ilmu Pengetahuan, cet. ke-1 Jakarta: Reneka Cipta

Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James. Bandung:

Rosdakarya Titus, Harold H., Marilyn S. Smith & Richard T. Nolan. 1984. Living Issues in Phylosophy (H.M Rasjidi – penerj). Jakarta: Bulan Bintang

Wiramihardja, Sutardjo A. 2007. Pengantar Filsafat, cet ke-2. Bandung: Refika Aditama 

--Tulisan (makalah) ini dipresentasikan pada mata kuliah Filsafat, Senin (24/5) di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII Yogyakarta--



Tips Membuat Billing Warnet dengan Excel


Copyright © 2008 IlmuKomputer.Com
                                           Tips Membuat Billing Warnet dengan Excel
                                                            Doddy Yunirman
                                                  doddy_151619@yahoo.com

Setiap warnet pasti membutuhkan sarana untuk mencatat transaksinya setiap hari yang tidak
mungkin dilakukan secara manual. Saat ini banyak bermunculan software-software billing warnet
yang dapat mencatat semua transaksi warnet mulai dari jasa penggunaan internet, scan, print, atau
bahkan hingga minuman ringan yang mendukung usaha warnet. Di samping itu, software tersebut
juga memberikan fitur-fitur beraneka ragam mulai dari yang berhubungan dengan sistem operasinya,
hingga laporan keuangan warnet itu sendiri. Namun harga software billing warnet yang ditawarkan
begitu beragam dan cukup mahal. Padahal dengan sedikit kemampuan Excel, Anda dapat membuat
sendiri billing internet dengan mudah. Tips dan trik ini berusaha membahas dengan singkat dan jelas
bagaimana membuat billing warnet dengan mudah dengan bantuan Microsoft Excel.

MEMBUAT KERANGKA
Menentukan Harga
Anda pasti telah menentukan berapa tarif yang dikenakan setiap jamnya. Tarif pengguna biasa
mungkin berbeda dengan tarif pengguna Member atau Pelajar. Demikian juga mungkin harga per
menit pertama berbeda dengan harga per menit selanjutnya. Dengan penentuan tarif seperti ini akan
membuat Anda lebih mudah apabila ingin menaikkan tarif tersebut. Buatlah kolom Kode, Type,
Menit Pertama, Harga, Menit Selanjutnya, dan Harga. Contohnya sbb:
Harga tersebut di atas adalah asumsi bila untuk pengguna Biasa adalah Rp. 4.500/jam dan untuk
Member dan Student Rp. 4.000/jam. Anda dapat merubahnya sesuai dengan tarif yang Anda
gunakan. Anda juga dapat merubah apabila Anda ingin mengenakan tarif yang berbeda untuk Menit
Pertama dan Menit Selanjutnya.

Menit Menit
Pertama Selanjutnya
B Biasa 5 375 5 375
M Member 3 200 3 200
S Student 3 200 3 200
Kode Type Harga Harga

Membuat Tabel
Dalam merancang sebuah billing warnet, tentu Anda akan menentukan kolom-kolom apa saja yang
diperlukan dalam sebuah tabel perhitungannya. Buatlah kolom-kolom seperti Nomor Client, Kode,
Type, Waktu Mulai, Waktu Selesai, Durasi/Status, Durasi Menit, Print, Scan, Jumlah, dan
Keterangan. Contohnya sbb:
• Client: nomor client/workstation yang digunakan.
• Kode Client: kode tipe pengguna seperti B untuk biasa, M untuk member, atau S untuk Student
• Type: penjelasan dari kolom Kode
• Waktu Mulai: waktu mulai akses internet
• Waktu Selelai: waktu selesai akses internet
• Durasi: waktu yang digunakan untuk akses internet dalam format hh:mm. Apabila pengguna
masih aktif (Waktu Selesai belum diinput), maka kolom ini akan berstatus “ACTIVE”
• Durasi Menit: penjabaran dari kolom Durasi yang diterjemahkan dalam satuan menit. Misalnya
durasi 01:29 berarti 89 menit.
• Print: apabila ada tambahan untuk Print
• Scan: apabila ada tambahan untuk Scan
• Jumlah: jumlah yang harus dibayarkan oleh Pengguna.
• Keterangan: kolom keterangan bisa digunakan seperti pemakaian webcam, minuman ringan,
atau keterangan lainnya.
Nama Warnet
Anda tentu bisa menampilkan nama warnet dan logo di atas kolom-kolom tersebut. Tambahkan juga
seperti tanggal dan total pendapatan hari ini. Contohnya sbb:
MEMBUAT RUMUS
Sebelum Anda membuat rumus pada kolom-kolom tersebut, sebaiknya Anda menentukan lebih
dahulu nama tabel harga dengan cara memblok tabel harga dari kolom F6 hingga K8 kemudian pilih
Insert > Name > Define. Tuliskan “tabel” pada kolom Names in workbook kemudian pilih Add.
Dengan begitu tabel harga telah terdifinisikan dengan nama “tabel” untuk memudahkan penulisan
rumus.
Kolom A: Client
Untuk memudahkan Anda, gunakan validasi data untuk kolom ini melalui menu Data > Validation.
Pada dropdown menu Allow, pilih List, dan pada textbox Source, isilah sesuai dengan komputer
client yang Anda miliki. Misalnya Anda memiliki 10 client, maka isilah 1;2;3;4;5;6;7;8;9;10 pada
textbox tersebut. Perhatikan list separator yang Anda gunakan. Gantilah dengan karakter “,” (koma)
apabila Anda menggunakan English (United States) pada Regional and Language Options di Control
Panel.
Client Kode Type
Waktu
Mulai
Waktu
Selesai
Durasi/
Status
Durasi
Menit Print Scan Jumlah Keterangan

Kolom B: Kode
Sama seperti kolom A, gunakan validasi data dengan mengisi nilai B;M;S pada textbox Source.
Kolom C: Type
Gunakan rumus:
=IF(ISNA(VLOOKUP(B11;tabel;2;0));"";VLOOKUP(B11;tabel;2;0))
Kolom D: Waktu Mulai
Rubah format sel dengan bentuk jam melalui Format > Cells kemudian pada tab Number pilih Time
dengan Type 13:30. Isilah waktu mulai dengan format hh:mm.
Kolom E: Waktu Selesai
Lakukan hal yang sama dengan kolom D.
Kolom F: Durasi/Status
Gunakan rumus:
=IF(AND(B11="";E11="";A11="");"";IF(AND(B11<>"";E11="");"ACTIVE";E11-D11))
Rubah format kolom ini dengan format seperti kolom D&E.
Kolom G: Durasi Menit
Gunakan rumus:
=IF(OR(B11="";E11="");"";(HOUR(F11)*60)+MINUTE(F11))
Rubah format kolom ini dengan format Number.
Kolom H&I: Print & Scan
Rubah format kolom ini menjadi format Number dengan seperator koma.
Kolom J: Jumlah
Gunakan rumus:
=IF(OR(B11="";E11="");"";IF(G11<VLOOKUP(B11;tabel;3;0);(VLOOKUP(B11;tabel;4;0))+H11+
I11;(((P11+Q11)*VLOOKUP(B11;tabel;6;0))+VLOOKUP(B11;tabel;4;0)+H11+I11)))
Kolom O:
Gunakan rumus:
=IF(OR(B11="";E11="");0;G11-VLOOKUP(B11;tabel;3;0))
Kolom P:
Gunakan rumus:
=IF(OR(B11="";E11="");0;ROUNDDOWN(O11/VLOOKUP(B11;tabel;5;0);0))
Kolom Q:
Gunakan rumus:
=IF(OR(B11="";E11="");0;ROUNDUP(O11/VLOOKUP(B11;tabel;5;0);0)-P11)
Sembunyikan kolom O, P, & Q dengan perintah Format > Colomn > Hide
Setelah semua kolom diberi rumus dan format dengan benar, berikan kira-kira 100 baris dengan
asumsi kira-kira 100 orang per harinya yang menggunakan jasa internet. Kemudian tambahkan
kolom Total Pendapatan Hari ini dibaris ke-101. Beri rumus SUM pada kolom Print, Scan, dan
Jumlah. Pemberian warna selain warna putih dimaksudkan agar pada area tersebut tidak boleh
dirubah atau dihapus. Kolom yang dapat diinput oleh operator warnet hanyalah kolom yang
berwarna putih. Contohnya sbb:
Pada bagian bawah tabel tersebut, Anda dapat gunakan untuk statistik pemakaian pada hari tersebut.
Isi dengan menggunakan rumus sbb:
Baris 154: Durasi Jam Terpakai
Gunakan rumus: =SUM(F11:F150)
Baris 155: Durasi Menit Terpakai
Gunakan rumus:  =SUM(G11:G150)
Untuk baris 154 dan 155, rubahlah format cell menjadi format Time hh:mm
Baris 156: Pengguna Biasa
Gunakan rumus: =COUNTIF(B11:B150;"b")
Baris 157: Pengguna Member
Gunakan rumus: =COUNTIF(B11:B150;"m")
Baris 158: Pengguna Student
Gunakan rumus: =COUNTIF(B11:B150;"s")
Baris 159: Total Pengguna
Gunakan rumus: =SUM(D156:D158)
Untuk baris 156 sampai 159, rubahlah format cell menjadi format Number
Baris 160: Pendapatan Print
Gunakan rumus:
=H151
Baris 161: Pendapatan Scan
Gunakan rumus: =I151
Baris 162: Pendapatan Internet
Gunakan rumus: =D163-D160-D161
Baris 163: Jumlah Pendapatan
Gunakan rumus: =J151
Untuk baris 160 sampai 162, rubahlah format cell menjadi format Number dengan separator koma.
Anda mungkin juga dapat memberi keterangan tertulis pada bagian paling bawah file ini seperti:
Keterangan:
- Hanya kolom berwarna putih yang dapat diisi
- Isi kolom sesuai petunjuk
- Pengisian Tabel Harga membutuhkan password
- Penambahan baris atau perubahan format membutuhkan password
- Jangan lupa untuk selalu di-save setelah menginput data
Ganti nama sheet sesuai tanggal dan buat sebanyak 30 atau 31 sheet. Untuk rumus Total Pendapatan
Hari ini pada bagian atas, bisa mengacu pada jumlah di kolom J151 (rumus: =$J$151).

Tips dan Trik Lainnya
Untuk memberikan petunjuk yang lebih jelas kepada operator warnet Anda, ada baiknya Anda
membuat format validitas untuk mencegah terjadinya kesalahan input atau terhapusnya rumus-rumus
yang Anda buat melalui menu Data > Validation. Tentukan nilai validasi yang Anda buat sesuai
dengan kolom-kolom tersebut seperti contoh yang disinggung pada bagian Kolom A: Client. Pada
tab Input Massage, masukan judul dan isi pesan sesuai kolom yang dimaksud. Pada tab Error Alert,
masukan judul dan isi pesan apabila terjadi kesalahan input.
Sebagai tambahan, Anda mungkin ingin benar-benar memproteksi kolom-kolom rumus yang Anda
buat. Caranya blok pada kolom yang berwarna putih kemudian non-aktifkan kotak cek pada menu
Format > Cell > tab Protection > Locked. Setelah dilakukan pada semua kolom yang berwarna putih,
buatlah password pada menu Tools > Protection > Protect Sheet. Masukkan sebanyak 2 kali.


Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan
secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau
merubah atribut penulis dan pernyataan copyright yang disertakan dalam setiap dokumen.
Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali mendapatkan ijin terlebih dahulu
dari IlmuKomputer.Com.